JAKARTA — Di tengah klaim pemerintah bahwa fundamental ekonomi nasional masih kuat, pasar keuangan Indonesia justru menunjukkan sinyal berbeda.
Nilai tukar rupiah terus tertekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi lebih dari 36 persen dari puncaknya, dan investor asing masih gencar melepas aset domestik.
>>> ESA Siarkan Langsung Gerhana Matahari Total Agustus 2026 dari Spanyol
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya dikhawatirkan pasar?
Repricing Risiko Indonesia
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan yang terjadi saat ini menunjukkan proses repricing atau penyesuaian ulang terhadap risiko Indonesia di mata investor global.
“Ketika rupiah melemah, IHSG terkoreksi lebih dari 36 persen, dan arus dana asing masih mencatatkan net sell yang besar, pasar pada dasarnya sedang menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia,” ujar Hendra kepada Kompas.
com, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung.
“Risiko yang paling menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi yang melambat, melainkan meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar,” jelas dia.
Ketika tingkat ketidakpastian meningkat, investor cenderung meminta kompensasi berupa valuasi yang lebih murah sebelum kembali masuk ke pasar.
Faktor Domestik Makin Dominan
Jika beberapa tahun lalu faktor global sering menjadi penjelasan utama pergerakan pasar Indonesia, saat ini pengaruh aspek domestik justru semakin besar.
Hendra mengakui bahwa kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik Timur Tengah tetap memberikan tekanan terhadap seluruh negara berkembang.
Namun, yang membedakan kinerja masing-masing negara adalah kondisi domestiknya.
Investor mulai membandingkan antarnegara emerging market dan memilih negara dengan kepastian kebijakan lebih baik, risiko fiskal lebih rendah, serta arah pembangunan yang lebih mudah diprediksi.
