Psikolog Klinis dan Keluarga, Pritta Tyas, mengingatkan orang tua akan bahaya popcorn brain pada anak akibat bermain game online secara berlebihan.
Kondisi ini membuat otak terus mencari stimulasi instan sehingga mengganggu fokus dan kualitas tidur.
>>> Dejan Lovren Sebut Arne Slot Penyebab Kepergian Mohamed Salah dari Liverpool
Menurut Pritta, aktivitas bermain fisik seperti menyusun balok lebih baik bagi anak usia dini hingga 8 tahun. Hands-on learning melatih kreativitas, pemecahan masalah, dan resiliensi.
"Ketika anak melihat hamparan Lego bricks di depannya, dia bisa mencari beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan suatu masalah.
Itu yang melatih kreativitas," kata Pritta dalam acara Lego Playground di Jakarta, Jumat (05/06).
>>> KPK Ungkap Tarif Ilegal Izin Tinggal WNA, Silmy Karim Jadi Tersangka
Bermain fisik juga mengembangkan kemampuan visual spasial yang berguna untuk profesi kreatif seperti desainer atau arsitek. Namun, permainan digital tidak sepenuhnya buruk karena anak perlu mengenal teknologi.
Pritta menyarankan agar porsi game online dikurangi sebisa mungkin. Ia menilai anak baru siap mengakses game online pada usia 15-16 tahun atau SMA.
"Tapi, kan fenomena-nya sangat awal anak bisa dapat akses ke games atau games online," ungkapnya.
>>> OJK Awasi Ketat Delapan Pinjol Akibat Masalah Modal dan Kredit Macet
Orang tua diimbau mendampingi dan menyesuaikan akses digital dengan tahap perkembangan anak. "Peran orangtua bukan membatasi untuk menimbulkan resistensi, tetapi harus tahu tahapan perkembangan anak," pungkas Pritta.