⌂ Beranda News Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan Akibat Penyusutan Simpanan Rupiah

Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan Akibat Penyusutan Simpanan Rupiah

Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan Akibat Penyusutan Simpanan Rupiah
Ilustrasi tekanan likuiditas perbankan akibat penyusutan simpanan rupiah
A A Ukuran Teks16px

Likuiditas industri perbankan mulai menghadapi tekanan seiring menyusutnya simpanan dalam mata uang rupiah.

Dana masyarakat dinilai bergeser ke berbagai instrumen investasi dengan imbal hasil lebih menarik di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan suku bunga yang masih tinggi.

>>> Kelahiran Bayi Orangutan Sumatera Badar Segarkan CA Jantho Aceh Besar

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan dana pihak ketiga (DPK) rupiah pada April 2026 tercatat sebesar Rp 8.100,4 triliun.

Angka ini tumbuh 9,6 persen secara tahunan, tetapi turun dibandingkan Maret 2026 yang mencapai Rp 8.208,2 triliun dengan pertumbuhan 11,1 persen.

Secara bulanan, simpanan rupiah menyusut Rp 172,9 triliun.

Sementara itu, DPK valuta asing (valas) pada April 2026 tercatat Rp 1.467,3 triliun, tumbuh 8,6 persen secara tahunan.

Angka ini relatif stagnan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 1.450,6 triliun.

Pergeseran Dana ke Instrumen Investasi

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai penurunan simpanan rupiah mengindikasikan realokasi aset oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Menurut dia, kondisi tersebut bukan semata-mata penarikan dana dari sistem keuangan.

Sebagian dana masyarakat berpotensi berpindah ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi seperti Surat Berharga Negara (SBN), deposito berjangka, reksa dana pasar uang, dan emas.

"Sebagian dana juga kemungkinan terserap untuk kebutuhan modal kerja perusahaan dan konsumsi rumah tangga," ujar Rizal kepada Kontan.

co. id, Minggu (7/6/2026).

Kenaikan simpanan valas yang hanya sekitar Rp 29,7 triliun menunjukkan perpindahan dana ke valuta asing bukan faktor dominan.

Rizal menilai kondisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai fenomena portofolio rebalancing dibandingkan aksi dolarisasi.

Rizal mengatakan, penurunan simpanan rupiah mulai memberi tekanan terhadap likuiditas perbankan. Tekanan akan lebih terasa jika dana murah (current account saving account/CASA) ikut menurun.

Ketika bank kehilangan sumber dana berbiaya rendah, bank cenderung menaikkan suku bunga deposito untuk mempertahankan likuiditas. Hal ini pada akhirnya mendorong kenaikan cost of fund (CoF).

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru