Mungkin Kalau sehari-hari kelihatannya enggak terlalu rame, tapi mereka justru pesan-pesan yang dari perusahaan-perusahaan itu sampai hari ini," kata Misye.
Saat ini seluruh aktivitas produksi dipusatkan di sebuah rumah produksi yang terletak di kawasan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat dengan sistem pelayanan bawa pulang atau khusus pesanan antar.
"Di rumah. Tetep ada tempat produksi dan untuk kopi to-go.
Jadi tidak dine in, lebih ke kopi to-go. Datang, beli, diambil," kata Misye.
Penjualan harian dari rumah produksi tersebut secara akumulatif mampu mempertahankan kestabilan angka pendapatan bulanan usaha.
"Kalau rata-rata sih 20-an ya, masih 20, antara 20-25 (Omzet Rp20-25 juta per bulan)," sebut Misye.
Dalam mengelola operasional harian, Misye mempekerjakan satu orang barista dan satu orang admin, serta memberdayakan tujuh siswa sekolah kejuruan sebagai tim kreatif pemasaran setiap hari Sabtu.
"Kebetulan ada 7 anak SMK, jadi dia kayak semacam PKL, tapi saya bawa sebagai tim kreatif.
Saya tuh punya ide bahwa kalau mau maju kan nggak sendiri, maju itu harus punya tim. Kebetulan ada anak-anak PKL.
Jadi ada yang pegang medsosnya IG, ada TikTok sama ada yang website gitu.
Ke rumah gitu setiap hari Sabtu karena saya enggak mau mengganggu sekolahnya mereka atau mereka sedang PKL di mana.
Udah hampir sebulan ini," sebut Misye.
Melalui keterlibatan para pelajar tersebut, ia berharap dapat mengedukasi sekaligus mencetak tenaga peracik kopi baru dari generasi muda.
"Intinya saya mau memberikan efek kepada lingkungan atau generasi-generasi gen-Z yang sekarang ada ini dengan tadi saya buktikan, saya mau loh ngobrol sama anak SMK.
Pengennya sih menularkan barista-barista baru, gitu loh," kata Misye.
Menu yang dijajakan meliputi kopi gula aren, kopi susu, americano, choco latte, green tea latte, dan jeruk peras.
Pesanan massal dari korporasi pernah mencapai ratusan cangkir dalam sekali acara. "Ya 2024, karena saya kan sering bazar-bazar, tuh, tiba-tiba tuh ada yang pesen untuk kantor.
Ada yang pesan untuk acara ulang tahun, kayak gitu-gitu. Terus saya dikasih kesempatan bazar.
Bazar besar gitu kan.
Ada perusahaan yang misalnya acara-acara bisa pesen 600 cup lah tuh, terus 700 cup lah gitu," sebut Misye.
Sementara itu, pihak pengelola Rumah BUMN Jakarta menyatakan bahwa fokus utama program pembinaan saat ini memang diarahkan pada aspek digitalisasi pasar.
"Jadi kita mendorong ke digitalisasinya," kata Jajang Rohmana, Koordinator Rumah BUMN Jakarta.
Secara nasional, BRI mengelola total 54 titik Rumah BUMN yang berfungsi sebagai ruang kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas usaha dan mendorong kemandirian ekonomi digital para pelaku usaha lokal.
>>> Undip Buka Pendaftaran Ujian Mandiri Sarjana UTBK 2026
"Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar," ujar Jajang Rohmana.