Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 4 persen pada awal perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Aksi jual massal oleh investor menjadi pemicu utama penurunan tajam ini.
Data IDX Mobile sekitar pukul 09.10 WIB mencatat IHSG merosot 245,82 poin atau turun 4,39 persen ke level 5.348,95.
>>> Pemerintah Pastikan Tidak Bubarkan Direktorat Jenderal Bea Cukai
Indeks sempat menyentuh posisi terendah intraday pada 5.346,91.
Koreksi ini memperpanjang tren penurunan dari perdagangan Jumat, 5 Juni 2026. Saat itu indeks ditutup melemah 245,019 poin atau 4,20 persen ke level 5.594,765.
Faktor Teknikal dan Fundamental
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menjelaskan kondisi teknikal pergerakan IHSG.
Ia menyebut pergerakan indeks sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI meskipun fase downtrend terbentuk.
Indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume.
Pelaku pasar domestik saat ini mencermati ketidakjelasan kebijakan pemerintah, termasuk kekhawatiran terkait revisi UU PPSK yang berpotensi mengganggu independensi lembaga keuangan.
Kekhawatiran pasar juga dipicu oleh realisasi defisit APBN hingga Mei 2026 yang mencapai Rp180,4 triliun atau 0,7 persen dari PDB.
Hal ini memicu aliran modal keluar atau capital outflow.
Sentimen negatif global turut memperparah keadaan. Data pekerjaan non-farm payrolls AS bulan Mei melonjak 172.000, melampaui konsensus 85.000 pekerjaan.
Hal ini memperkuat sinyal The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama.
>>> 5 Hal Unik tentang Komodo yang Wajib Diketahui Sebelum Tur
Sentimen risk-off di pasar global diperparah oleh situasi di Timur Tengah yang kembali memanas.
Kebuntuan dalam negosiasi damai antara AS-Iran serta penolakan gencatan senjata Israel-Lebanon oleh Hizbullah membuat investor global cenderung prudent.
MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG pada Senin akan melemah menuju rentang level 5.395 hingga 5.412.
IHSG masih rawan melanjutkan downtrend-nya untuk menutup area gap yang terbentuk dan MA200 secara monthly.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan mengenai ketahanan fiskal.
Ia menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap solid dengan posisi defisit APBN yang naik tipis dari Rp164,4 triliun pada April menjadi Rp180,4 triliun pada akhir Mei 2026.
Di sisi lain, indeks dolar AS melonjak ke level 100,069 yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah hingga sempat terperosok ke level Rp18.000 per dolar AS dalam sepekan terakhir.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memaparkan faktor eksternal dan internal yang memengaruhi pelemahan rupiah.
Selain faktor global, kebutuhan dolar domestik masih cukup besar sesuai pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN.
Berdasarkan data perdagangan pagi, sebanyak 606 saham bergerak melemah, hanya 57 saham yang menguat, dan 296 saham lainnya stagnan.
>>> Produsen Otomotif Revisi Harga Mobil Hybrid per Juni 2026
Nilai transaksi mencapai Rp2,85 triliun dari volume perdagangan 3,77 miliar saham.