⌂ Beranda News Pelemahan Rupiah ke Rp18.000 Mulai Ancam Sektor Manufaktur Nasional

Pelemahan Rupiah ke Rp18.000 Mulai Ancam Sektor Manufaktur Nasional

Pelemahan Rupiah ke Rp18.000 Mulai Ancam Sektor Manufaktur Nasional
Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang berdampak pada sektor manufaktur
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan sektor manufaktur nasional.

Manager Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi menjelaskan bahwa sebagian sektor industri saat ini masih dapat meredam dampak buruk penurunan nilai tukar melalui instrumen lindung nilai atau hedging.

>>> BMKG Tetapkan Status Siaga Tsunami di Delapan Wilayah Sulawesi Utara

Kendati demikian, perlindungan keuangan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak mampu mengover seluruh kebutuhan devisa perusahaan.

"Pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS memang belum langsung diikuti kenaikan harga karena sebagian industri masih terlindungi kontrak hedging.

Namun, instrumen ini memiliki batas waktu dan cakupan," ujar Badiul kepada Kontan. co.

id, Minggu (7/6/2026).

Biaya impor bahan baku berpotensi membengkak sekitar 8 hingga 15 persen apabila kurs tinggi tersebut bertahan melebihi masa berlaku lindung nilai yang umumnya hanya berkisar 3 sampai 12 bulan.

Situasi ini dinilai akan menggerus margin keuntungan pelaku usaha, terutama pada sektor rentan seperti farmasi, elektronik, kimia, dan otomotif.

"Dalam skenario tersebut, harga produk manufaktur berpotensi naik 3%-7%.

Dampaknya, inflasi dapat bertambah sekitar 0,5-1,5 poin persentase dan pertumbuhan ekonomi berisiko terkoreksi 0,2-0,5 poin persentase dari target semula," jelas Badiul.

Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, Badiul mendorong pemerintah agar mempercepat kebijakan substitusi impor serta memperkuat industri bahan baku dalam negeri.

"Tanpa pembenahan struktur industri, setiap pelemahan rupiah akan terus berulang menjadi inflasi, menekan daya beli, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi," kata Badiul.

>>> Timnas U19 Indonesia Lolos Semifinal Piala AFF Usai Tekuk Vietnam

Badiul menambahkan bahwa masyarakat menghadapi ancaman risiko ganda jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat.

"Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya pelemahan rupiah, tetapi potensi munculnya tekanan inflasi ketika mesin pertumbuhan ekonomi justru kehilangan tenaga," pungkas Badiul.

Kenaikan biaya produksi akibat depresiasi rupiah kini juga mulai dirasakan secara nyata oleh industri keramik dalam negeri.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru