Pemerintah memutuskan untuk menunda penerapan kebijakan bea keluar bagi ekspor komoditas batu bara dalam waktu dekat.
Keputusan ini merupakan hasil kesepakatan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
>>> Jet Tempur F-14 Tomcat Iran Terancam Punah Pasca Serangan Udara AS
Penundaan ini didasarkan pada penilaian bahwa momentum saat ini belum tepat untuk membahas rencana tersebut secara mendetail.
Pemerintah masih menunggu hasil formulasi regulasi yang sedang disusun oleh kedua kementerian terkait.
"Saya sampaikan bahwa pembahasan untuk bea keluar batu bara sampai dengan sekarang belum ada keputusan dan itu adalah menjadi kesepakatan saya dengan Pak Menteri Keuangan, menunggu formulasi yang kami buat," ujar Bahlil Lahadalia.
Menurut Bahlil, pemerintah belum melakukan pembahasan secara rinci karena kondisi regulasi saat ini dinilai belum pas untuk mengimplementasikan pungutan ekspor tersebut.
"Dan pandangan saya dan keputusan Menteri Pak Purbaya bahwa timing sekarang belum saatnya untuk kita melakukan pembahasan detail," tambahnya.
Sebelumnya, rencana pengenaan bea keluar ini muncul karena adanya evaluasi terhadap kontribusi para eksportir batu bara yang dinilai masih minim bagi penerimaan negara.
>>> Imigrasi Depok Tangkap Buron Pelecehan Seksual AS dari Bunker
Saat harga komoditas merosot, para pengusaha dinilai cenderung mengajukan pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau restitusi dalam jumlah besar.
Pengajuan restitusi oleh para pengusaha batu bara dilaporkan bisa mencapai angka Rp 25 triliun per tahun saat harga komoditas sedang turun.
Kondisi ini yang kemudian diidentifikasi menjadi penyebab penurunan total penerimaan pajak negara.
"Akibatnya kita tidak menyejahterakan masyarakat, malah pengusaha batu bara saja yang untungnya lebih banyak.
Makanya kenapa pajak saya tahun ini turun, karena bayar restitusi cukup besar," ucap Purbaya Yudhi Sadewa.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah sebenarnya menargetkan penerimaan negara sebesar Rp 20 triliun per tahun dari sektor ini.
>>> Google Luncurkan Gemini Go untuk Android Murah, Butuh RAM 2GB
Saat ini, perumusan skema tarif dan mekanisme teknis pengenaan bea keluar masih terus dimatangkan.