Di tengah narasi pemerintah mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid, pasar keuangan justru menunjukkan sinyal yang berbeda.
Nilai tukar rupiah terperosok hingga Rp 18.201 per dollar AS pada Senin (8/6/2026), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 4 persen.
>>> OJK Dukung RUU Obligasi Daerah untuk Dorong Kemandirian Pemda
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai alasan aset-aset Indonesia terus ditinggalkan investor global, jika memang ekonomi negara ini kuat.
Pelemahan rupiah dan kejatuhan pasar saham terjadi bersamaan dengan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Hingga pukul 13.48 WIB, rupiah terdepresiasi 165 poin atau 0,91 persen ke level Rp 18.201 per dollar AS.
Pada saat yang sama, IHSG anjlok 242,16 poin atau 4,33 persen ke area 5.352,61, mendekati posisi terendah di 5.346,34.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai tekanan pasar tidak semata-mata dipicu arus keluar dana asing, melainkan juga meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia atau country risk.
Tekanan pada pasar keuangan menunjukkan investor mulai memberikan premi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia.
Hal ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit fiskal, terutama karena pemerintah belum melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan anggaran.
Persepsi risiko tersebut tercermin dari pergerakan pasar obligasi.
Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dengan obligasi Amerika Serikat kini melebar hingga sekitar 2,5 persen.
Kondisi ini membuat aset keuangan Indonesia harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik minat investor. Pasar meminta kompensasi lebih besar atas risiko yang mereka lihat di Indonesia.
Faris menjelaskan, secara country risk, Indonesia sedang dihukum karena potensi defisit fiskal yang melebar akibat tidak adanya penyesuaian harga BBM.
Ia melihat selisih yield obligasi 10 tahun Indonesia dan AS yang melebar menjadi sinyal bagi investor asing untuk melakukan aksi inflow.
Sinyal meningkatnya risiko investasi di Indonesia mulai terlihat ketika IHSG masih berada di level tertinggi sepanjang sejarah pada November 2025.
