Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan gigi dan mulut secara berkala dinilai masih rendah. Banyak orang baru berkunjung ke dokter gigi setelah merasakan nyeri yang tidak tertahankan.
Padahal, gangguan pada gigi dan mulut kerap kali berkembang tanpa memicu gejala awal yang mengganggu. Hal ini memicu penanganan yang seharusnya sederhana menjadi lebih rumit.
>>> Prabowo Lantik Pimpinan Badan Gizi Nasional di Istana Negara
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia, sebanyak 57 persen masyarakat mengalami gangguan gigi dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang aktif mencari bantuan medis.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pemeriksaan rutin belum menjadi kebutuhan, melainkan hanya opsi saat keluhan muncul. Padahal sejumlah gangguan sering tidak disadari.
"Yang paling gampang itu adalah penyakit gusi.
Penyakit gusi itu jarang menyebabkan rasa sakit, tapi tanda awal yang sudah pasti kelihatan itu adalah kalau sikat gigi berdarah," ujar drg.
Melissa Delania, Sp.
Pros dari SATU Dental saat ditemui usai acara Press Conference #BeraniTampil di Blok M, Jakarta, Jumat (5/6).
Peradangan pada jaringan gusi akibat penumpukan plak dan karang gigi sering luput dari perhatian. Banyak orang keliru mengira gusi berdarah hanya karena cara menyikat gigi yang terlalu keras.
Selain masalah gusi, kondisi gigi berlubang juga kerap tidak disadari oleh penderita sejak awal. Kerusakan pada lapisan luar sering kali tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali.
"Kalau bolong di lapisan email mungkin belum disadari oleh pasien, karena nggak menimbulkan rasa sakit.
Jadi nanti pas datang sudah sakit, itu sudah ke layer yang lebih dalam," katanya.
>>> Bojan Hodak Raih Pelatih Terbaik Super League Tiga Musim Beruntun
Rasa nyeri hebat biasanya baru muncul saat kerusakan telah menembus lapisan dentin atau mencapai saraf. Pada fase ini, tindakan medis yang diperlukan menjadi jauh lebih kompleks.
Sikap menunda pemeriksaan ke dokter gigi juga berdampak langsung pada beban finansial pasien. Upaya pencegahan dini dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan pengobatan tingkat lanjut.