Dalam sepak bola, kemenangan sering ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Logika yang sama berlaku dalam pembangunan ekonomi.
Ketika lingkungan global berubah dan kelemahan lama mulai terlihat, sebuah negara perlu mengevaluasi strategi yang dijalankan.
>>> Menteri Kehakiman Prancis Gerald Darmanin Menolak Mundur di Tengah Kritik
Tujuannya bukan menafikan keberhasilan masa lalu, melainkan memastikan pembangunan menjawab tantangan masa depan.
Selama puluhan tahun, Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan bahwa keterbukaan pasar, investasi, dan integrasi global akan membawa kemakmuran.
Sebagian keberhasilan memang tercapai.
Namun, semakin sering dunia diguncang krisis, semakin jelas bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan ketahanan ekonomi.
Pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi bagaimana meningkatkan pertumbuhan setinggi mungkin, melainkan bagaimana membangun pertumbuhan yang lebih mandiri.
Negara yang terlalu bergantung pada pangan impor, energi impor, teknologi impor, dan modal asing akan selalu rentan terhadap gejolak dari luar batas negaranya sendiri.
Kekuatan Ekonomi yang Rapuh
Selama beberapa dekade, strategi pembangunan nasional berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Namun, keberhasilan tersebut dibangun di atas asumsi yang menyimpan kerentanan.
Industrialisasi berkembang, tetapi sebagian besar masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, dan teknologi impor.
Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah atau rantai pasok global terganggu, biaya produksi nasional melonjak dan daya saing industri domestik tertekan.
Ketergantungan juga terjadi pada pembiayaan pembangunan. Indonesia cukup lama mengandalkan arus modal asing untuk menutup kebutuhan investasi domestik.
Defisit transaksi berjalan yang berulang sering ditutup melalui masuknya modal portofolio jangka pendek.
Dalam kondisi normal, strategi ini mampu menyediakan likuiditas. Namun, ketika terjadi gejolak global, modal yang masuk dengan cepat dapat keluar dengan cepat.
Pengalaman krisis Asia 1997-1998 dan berbagai episode gejolak pasar keuangan global menunjukkan bahwa fondasi ekonomi yang terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek sangat rentan terhadap perubahan sentimen investor internasional.
Masalah lain adalah kecenderungan membuka diri terhadap globalisasi tanpa menyiapkan fondasi domestik yang memadai.