Indonesia terus mematangkan rencana ekspor listrik bersih ke Singapura, namun realisasinya masih menunggu pembangunan fasilitas transmisi. Proyek ini diperkirakan memakan waktu lebih dari satu tahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa skema pengiriman energi ini sedang dikaji mendalam bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
>>> Honda ADV160 Terbaru Meluncur di Malaysia dengan Layar TFT dan Fitur Canggih
Pemerintah menargetkan nota kesepahaman yang disepakati tahun lalu dapat segera difinalisasi.
"Membangun fasilitas ini membutuhkan sekurang-kurangnya 1 sampai 1,5 tahun untuk diimplementasikan," ujar Airlangga Hartarto.
Proyek bilateral ini tidak hanya berfokus pada perdagangan energi lintas batas, tetapi juga dirancang untuk memproyeksikan wilayah Kepulauan Riau sebagai pusat industri hijau baru.
Pemerintah berencana memanfaatkan pasokan listrik ramah lingkungan ini sebagai daya tarik bagi investasi industri berteknologi tinggi di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun.
>>> Timnas Indonesia Diunggulkan Raih Kemenangan atas Mozambik
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menambahkan bahwa persiapan lahan dan regulasi untuk kawasan industri tersebut sudah mendekati tahap akhir penyelesaian.
"Saya sudah mendapat laporan bahwa kawasan industri sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepri.
Dan ini saya lagi meng-clear-kan. Kalau itu sudah selesai, maka saya pikir ini salah satu kemajuan dalam persiapan," kata Bahlil Lahadalia.
Kesepakatan awal menargetkan pengiriman listrik hijau sebesar 3,4 gigawatt (GW) ke Singapura hingga tahun 2035.
>>> Susunan Komisaris Baru Telkom Perkuat Transformasi Digital dan Restrukturisasi
Kerja sama ini juga mewajibkan Singapura membangun kawasan industri berbasis energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.