Ekonom senior Chatib Basri mengemukakan bahwa risiko fiskal domestik merupakan faktor terbesar yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan tekanan pasar saham.
Menurutnya, hal ini bukan disebabkan oleh konflik global.
>>> OTK Rusak Kabel Lift JPO Lenteng Agung, Fasilitas Mati Total
Chatib Basri menjelaskan bahwa indikator risiko fiskal Indonesia menunjukkan perburukan bahkan sebelum eskalasi konflik global meningkat. Ia mendasarkan analisisnya pada pengujian kausalitas menggunakan metode Granger Causality test.
"Jadi, Granger Causality test-nya itu menunjukkan bahwa yang bisa menjelaskan pelemahan rupiah, faktor yang paling besar itu adalah resiko dari fiskal," ujar Chatib Basri.
Pengujian tersebut menganalisis data credit default swap (CDS), sebuah instrumen asuransi bagi investor asing pembeli obligasi pemerintah, sebagai proksi risiko fiskal.
Data menunjukkan pergerakan CDS mampu menjelaskan 23 persen varian perubahan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
"Jadi kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, that's not true. Kenapa?
Karena negara lain juga ada akibat dari perang, tapi exchange rate-nya tidak depresiasinya serendah Indonesia," tegas Chatib Basri.
Ia menambahkan bahwa depresiasi mata uang negara lain tidak sedalam rupiah meskipun sama-sama terdampak perang global.
Sebaliknya, pergerakan nilai tukar rupiah hanya mampu menjelaskan 2,3 persen dari pergerakan CDS.
>>> Daftar Negara Juara Piala Dunia Terbanyak Sepanjang Sejarah
Temuan ini mengindikasikan bahwa persoalan utama terletak pada tingkat kepercayaan pasar terhadap fiskal, bukan struktur ekonomi secara keseluruhan.
Chatib Basri meyakini tekanan rupiah dapat diperbaiki jika pemerintah mengatasi isu kredibilitas fiskal dengan tepat.
Tekanan rupiah dan pasar saham ini terjadi di tengah indikator fundamental domestik yang relatif baik, dengan pertumbuhan ekonomi nasional stabil di kisaran 5,6 persen dan inflasi terkendali.
Bank Indonesia memiliki beberapa opsi untuk menghadapi tekanan nilai tukar. Opsi pertama adalah intervensi pasar valuta asing yang berisiko menurunkan cadangan devisa.
Opsi kedua adalah menaikkan suku bunga untuk menarik minat investor asing, yang telah diterapkan melalui kenaikan policy rate sebesar 50 basis poin.
Selain kebijakan moneter, Bank Indonesia juga menerapkan kebijakan makroprudensial dengan memangkas batasan paparan valuta asing dari 50.000 dolar AS menjadi 25.000 dolar AS.
"Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh Bank Indonesia? Pertama, raise policy rate, sudah dilakukan.
>>> Lift JPO Lenteng Agung Lumpuh Akibat Vandalisme, Akses Tangga Manual Jadi Pilihan
Atau dia intervene di dalam forex market, atau menerapkan kebijakan microprudential, dan ini yang dilakukan oleh Bank Indonesia," pungkas Chatib Basri.