Kondisi pasar kerja di Indonesia menunjukkan perbaikan.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Februari 2026 turun menjadi 4,68 persen, dari 4,76 persen pada Februari 2025.
>>> Kevin De Bruyne Nyatakan Siap Bela Belgia di Piala Dunia 2026
Jumlah penduduk bekerja juga meningkat menjadi 147,67 juta orang. Angka ini bertambah sekitar 1,9 juta orang dibanding tahun sebelumnya.
Namun, kelompok usia muda masih menjadi penyumbang pengangguran terbesar. BPS mencatat TPT untuk usia 15-24 tahun mencapai 16,36 persen pada Februari 2026.
Artinya, sekitar satu dari enam angkatan kerja muda belum terserap pasar kerja. Angka ini jauh di atas kelompok usia 25-59 tahun yang hanya 2,93 persen.
Masa Transisi Panjang dari Pendidikan ke Dunia Kerja
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyoroti lamanya masa transisi dari pendidikan ke dunia kerja.
Riset menggunakan data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan rata-rata durasi pencarian kerja setelah lulus mencapai 19,8 bulan. Artinya, lulusan baru butuh hampir 20 bulan untuk mendapatkan pekerjaan pertama.
Durasi ini mencerminkan efisiensi proses pencocokan antara pencari kerja dan lowongan. Faktor yang memengaruhi meliputi kondisi ekonomi regional, kualitas modal manusia, dan akses informasi lowongan.
Penetrasi teknologi, transformasi ekonomi, dan kebutuhan keterampilan baru juga membentuk dinamika serapan tenaga kerja muda.
Data menunjukkan 71 persen pekerja mendapatkan pekerjaan pertama setelah lulus. Sementara 16 persen sudah bekerja sebelum lulus, dan 13 persen belum bekerja pada 2025.
Komposisi tenaga kerja saat ini didominasi generasi yang aktif bekerja pada 2010-2025, yaitu 56 persen.
Pekerja generasi 2001-2010 sebesar 21 persen, generasi 1990-2000 sebesar 15 persen, dan sebelum 1990 hanya 8 persen.
Tantangan Lulusan Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi tidak selalu mempercepat masuk dunia kerja. LPEM FEB UI menyebut lulusan perguruan tinggi sering melewati durasi pencarian lebih lama daripada kelompok berpendidikan rendah.
Kelompok berpendidikan menengah ke bawah lebih mudah terserap di pekerjaan kerah biru karena tidak mensyaratkan kualifikasi tinggi.