Sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk menjadi sasaran serangan dari markas besar militer Iran pada Rabu (10/6) pagi waktu setempat.
Penyerangan ini diluncurkan sebagai bentuk pembalasan terhadap agresi terbaru AS di wilayah Iran bagian selatan.
>>> Dua Wakil Indonesia Amankan Tiket Babak Kedua Australian Open 2026
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menembak jatuh drone pengintai MQ-9 Reaper milik AS di wilayah udara Provinsi Bushehr bagian selatan.
IRGC juga melancarkan serangan drone ke pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain pada Rabu (10/6) dini hari sekitar pukul 02.30 waktu setempat.
"Bentrokan masih berlangsung," sebut IRGC dalam pernyataannya.
Pasukan elite tersebut menegaskan bahwa respons yang lebih masif akan segera menyusul apabila pihak AS tidak menghentikan tindakan agresif mereka terhadap kedaulatan Iran.
Pihak Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dan IRGC menyatakan penyerangan ini dipicu oleh gempuran AS yang menyasar area Jask, Sirik, dan Qeshm.
>>> Prabowo Terima Laporan Program Kesehatan Unggulan dari Menkes
Otoritas Teheran melaporkan bahwa agresi AS tersebut mengakibatkan kerusakan satu menara telekomunikasi di Sirik serta hancurnya dua tangki air di distrik Bamani.
Media lokal di Teheran sempat melaporkan terjadinya rentetan ledakan besar dan serangan proyektil di wilayah Provinsi Hormozgan bagian selatan.
Saluran televisi pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi bahwa kondisi di area konflik tersebut saat ini sudah berangsur tenang.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan operasi militer pertahanan diri beberapa jam sebelum serangan balasan Iran terjadi.
>>> Thomas Tuchel Sebut Inggris Bukan Favorit Utama Piala Dunia 2026
Jet tempur AS dilaporkan membombardir sistem pertahanan udara dan radar Iran di dekat Selat Hormuz sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik militer AS dalam insiden terdahulu.