Jauh sebelum teknologi geoengineering menjadi perbincangan, Prancis pernah memiliki rencana ambisius untuk mengubah sebagian Gurun Sahara menjadi laut buatan.
Tujuan utamanya adalah menciptakan jalur pelayaran baru, serta mengubah iklim gurun agar lebih lembap dan subur untuk pertanian.
>>> Donald Trump Jadi Meme Usai 'Muncul' di Momen Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Gagasan ini muncul pada akhir abad ke-19, di mana para insinyur dan penjelajah meyakini Sahara dapat 'dihidupkan kembali' dengan mengalirkan air laut ke cekungan yang berada di bawah permukaan laut.
Mereka berharap laut baru akan meningkatkan kelembapan udara, memicu curah hujan, dan membuat kawasan sekitarnya menjadi lebih hijau.
Usulan Kanal dari Teluk Gabès
Salah satu tokoh utama di balik proyek ini adalah François Élie Roudaire, perwira Angkatan Darat Prancis, yang mempromosikan gagasan tersebut pada 1870-an.
Bersama Ferdinand de Lesseps, sosok yang membangun Terusan Suez, ia mengusulkan pembangunan kanal dari Teluk Gabès di pesisir Mediterania menuju cekungan Chott el Fejej di Tunisia selatan.
Air laut nantinya akan dibiarkan mengalir ke cekungan tersebut hingga membentuk laut pedalaman, yang diyakini akan mengubah pola cuaca Afrika Utara dan meningkatkan produktivitas lahan.
Proyek ini diperkirakan menelan biaya sekitar USD30 juta, menjadikannya salah satu proyek rekayasa terbesar yang pernah dibayangkan pada abad ke-19.
Ide serupa juga pernah diusulkan insinyur Inggris Donald Mackenzie pada 1877, yang mengusulkan proyek lebih besar dengan mengalirkan air Samudra Atlantik ke Cekungan El Djouf.
Mackenzie membayangkan laut buatan seluas sekitar 155.399 km persegi dan menghubungkannya dengan Sungai Niger melalui kanal tambahan.
>>> Thailand Pesta Gol 5-0 Lawan Laos di Laga Perdana Piala AFF 2026
Namun, seiring survei lapangan yang semakin rinci, optimisme terhadap proyek mulai memudar.
