Pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti, menduga kondisi ekonomi nasional saat ini bergejolak akibat adanya kampanye serangan destabilisasi terkoordinasi.
Serangan ini disebut berasal dari tiga poros kekuatan yang dirugikan oleh kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
>>> BI Rate Naik ke 5,50%, Sektor Usaha Pasar Modal Hadapi Risiko Finansial
Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penurunan nilai tukar rupiah dinilai sebagai bagian dari operasi senyap.
Tujuannya adalah menggerus kepercayaan publik serta pasar, dengan memanfaatkan slogan negatif seperti 'sale Indonesia' hingga '1998 redux'.
Haris Rusly Moti menjelaskan bahwa kampanye ini bertujuan memicu pelarian modal, penurunan cadangan devisa, serta rekayasa guncangan ekonomi.
Hal ini dilakukan demi memicu instabilitas politik nasional.
"Kita sedang menghadapi sebuah peperangan (warfare) yang dilancarkan secara senyap dan samar. Kami menilai gejolak IHSG dan pelemahan nilai tukar rupiah sebagai sebuah serangan destabilisasi terkoordinasi," kata Haris.
Tiga Poros Kekuatan di Balik Kampanye Destabilisasi
Menurut Haris, tiga poros utama yang mendalangi kampanye ini meliputi oligarki domestik, korporasi multinasional, dan salah satu negara tetangga kecil yang kaya dari penampungan uang haram hasil eksploitasi alam Indonesia.
"Menurut kami oligarki 'serakahnomic' nasional yang sangat dirugikan kebijakan Presiden Prabowo. Selain itu, poros korporasi dan aktor multinasional.
Berikutnya, sudah menjadi rahasia umum, salah satu negara tetangga kita, negara kecil yang hidup dan kaya raya dari penampungan uang kotor hasil perampokan kekayaan dan sumber daya alam Indonesia," ujar Haris.
Haris menambahkan bahwa negara kecil tersebut dipastikan sangat dirugikan oleh kebijakan Presiden Prabowo.
Kondisi saat ini dinilai berbeda dengan krisis 1998. Perbedaannya terletak pada peta geopolitik global yang telah berubah dari unipolar menjadi multipolar.
Selain itu, pengaruh lembaga multilateral seperti IMF juga runtuh akibat runtuhnya Washington Consensus.
>>> Harga Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram, Buyback Turun Rp40 Ribu
Haris menyambung, "Nasib bangsa kita sejak zaman kolonialisme dan imperialisme bentuk lama dulu, selalu saja jadi objek yang dibodoh-bodohi dan diadu domba oleh negara kecil dan korporasi serakah atau kompeni jahat di masa lalu."