⌂ Beranda News BI Rate Naik ke 5,50%, Sektor Usaha Pasar Modal Hadapi Risiko Finansial

BI Rate Naik ke 5,50%, Sektor Usaha Pasar Modal Hadapi Risiko Finansial

BI Rate Naik ke 5,50%, Sektor Usaha Pasar Modal Hadapi Risiko Finansial
Gedung Bank Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen memicu kekhawatiran lonjakan biaya pendanaan bagi sejumlah sektor usaha di pasar modal.

Sektor properti, ritel, dan konstruksi, serta perusahaan dengan rasio utang tinggi berpotensi menghadapi tekanan berat.

>>> Harga Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram, Buyback Turun Rp40 Ribu

Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menyatakan bahwa pergerakan suku bunga acuan ini akan berdampak sensitif terhadap emiten properti dan otomotif.

Kenaikan biaya pinjaman berisiko menurunkan angka penjualan karena masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian yang umumnya memanfaatkan fasilitas kredit.

Tekanan pada sektor konsumer dan ritel juga diproyeksikan muncul akibat potensi peningkatan inflasi pada kuartal II hingga awal kuartal III-2026 yang dapat menggerus konsumsi masyarakat.

Kondisi ini diprediksi memicu fenomena downtrading, di mana konsumen beralih ke produk dengan harga lebih murah. Fenomena ini justru berpeluang menguntungkan emiten di segmen menengah ke bawah.

Kelompok perusahaan dengan ketergantungan besar pada pendanaan berbasis utang akan menjadi pihak yang paling rentan terhadap penyesuaian kebijakan moneter ini.

Sektor konstruksi, manufaktur, dan perusahaan pembiayaan (leasing) menjadi contoh utama yang bisnisnya sangat sensitif terhadap perubahan biaya modal.

Namun, kebijakan pengetatan moneter ini dinilai memiliki dampak penyeimbang berupa potensi penguatan nilai tukar rupiah melalui masuknya arus modal asing ke pasar obligasi.

Kenaikan BI Rate membuka potensi terjadinya aliran dana masuk yang cukup besar ke pasar obligasi.

Penguatan mata uang domestik didukung oleh imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang menyentuh angka 7,2 persen.

>>> Prabowo Targetkan Renovasi 400 Rumah Sakit Daerah untuk Standar Nasional

Faris mengekspektasikan rupiah berpotensi menguat ke level Rp 17.800 per dolar AS di akhir bulan ini.

Penguatan kurs ini akan meringankan beban emiten dengan utang valas karena risiko kerugian selisih kursnya menjadi lebih kecil.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru