⌂ Beranda News Angin Duduk Bukan Sekadar Masuk Angin, Dokter Spesialis Jelaskan Fakta Medis

Angin Duduk Bukan Sekadar Masuk Angin, Dokter Spesialis Jelaskan Fakta Medis

Angin Duduk Bukan Sekadar Masuk Angin, Dokter Spesialis Jelaskan Fakta Medis
Dokter spesialis kardiovaskular menjelaskan mitos angin duduk kepada masyarakat
A A Ukuran Teks16px

Angin duduk, yang sering dianggap sebagai masuk angin biasa atau akibat terlambat makan, ternyata merupakan mitos.

Istilah ini sebenarnya merujuk pada angina pektoris, sebuah kondisi yang menandakan gangguan aliran darah menuju otot jantung.

>>> Prabowo Resmikan RSUD Krui Lampung, Tekankan Pelayanan Tanpa Korupsi

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp. JP, FIHA, FAsCC, menegaskan bahwa anggapan angin duduk disebabkan oleh hal-hal tersebut tidak tepat.

Ia menjelaskan bahwa tindakan seperti mengerok atau menggunakan balsem hanya memberikan efek hangat sementara dan tidak mengatasi akar masalah pada jantung.

"Yang membuat nyaman itu adalah balsamnya, efek hangatnya. Pada saat pembuluh darah melebar, memang terasa lebih nyaman.

Tapi itu short effect, tidak long-term effect," ujar dr. Febtusia.

Kondisi ini tidak hanya menyerang usia lanjut.

Dr. Febtusia mengungkapkan adanya kasus pasien berusia 28 tahun yang mengalami angina pektoris, menunjukkan bahwa usia muda pun berisiko jika memiliki faktor risiko tertentu.

Gejala nyeri dada yang khas tidak selalu dialami oleh semua pasien, terutama perempuan.

Sekitar 23% perempuan hanya mengalami nyeri dada yang khas, sementara yang lain mungkin terlambat menyadari gejala karena manifestasi fisiknya berbeda.

Indikasi lain yang perlu diwaspadai antara lain tubuh yang lebih cepat lelah atau sesak napas saat melakukan aktivitas fisik ringan.

>>> Industri Penerbangan Asia 2026: Paradoks Permintaan Tinggi, Biaya Melonjak

Rasa tidak nyaman di ulu hati yang mirip sakit maag juga seringkali mengecoh penderita dan menunda pemeriksaan.

Untuk deteksi dini penyakit jantung koroner, pemeriksaan kesehatan berkala melalui tes treadmill sangat disarankan. "Jadi memang MCU penting.

Jadi nanti, jangan lupa di-MCU, cari treadmill test. Itu untuk screening awal untuk penyakit jantung koroner," pesan dr. Febtusia.

Secara medis, istilah "angina" berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti menyempit atau mencekik. "Pektoris" merujuk pada area dada.

Kekurangan pasokan oksigen dan darah pada otot jantung inilah yang memicu rasa tertekan di dada.

Sumbatan sebagian pada pembuluh darah dapat menyebabkan pasokan tidak memadai saat jantung bekerja keras, yang seringkali dipicu oleh aktivitas fisik atau tekanan emosional.

Faktor risiko utama pembentukan plak pembuluh darah meliputi kebiasaan merokok, obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan kurangnya aktivitas fisik.

"Efek dari merokok ini enggak ada yang sehari, dua hari," kata dr. Febtusia.

Penanganan dini dapat meliputi perbaikan pola hidup, konsumsi obat, terapi kolesterol, hingga prosedur medis seperti pemasangan stent atau operasi bypass.

>>> 98 Resolution Network: Pelemahan Rupiah Akibat Kampanye Destabilisasi Nasional

Jika dibiarkan, penyumbatan pembuluh darah yang total dapat berujung pada infark miokard akut atau kematian mendadak.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru