Industri penerbangan Asia memasuki tahun 2026 dihadapkan pada situasi paradoks. Permintaan perjalanan udara terus menunjukkan tren positif dengan peningkatan jumlah penumpang.
Namun, maskapai di kawasan ini juga menghadapi tekanan finansial yang signifikan akibat kenaikan harga bahan bakar dan gangguan operasional.
>>> 98 Resolution Network: Pelemahan Rupiah Akibat Kampanye Destabilisasi Nasional
Kondisi ini diperparah oleh konflik di Timur Tengah yang turut memicu lonjakan harga energi.
Laporan terbaru dari International Air Transport Association (IATA) mengindikasikan penurunan profitabilitas industri penerbangan global pada 2026.
Profitabilitas Industri Penerbangan Global Diprediksi Menyusut
Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, menyatakan bahwa gangguan akibat perang di Timur Tengah dan kenaikan biaya bahan bakar telah memperburuk prospek industri penerbangan.
IATA memperkirakan laba bersih gabungan maskapai penerbangan dunia pada 2026 hanya mencapai 23 miliar dollar AS.
Angka ini turun drastis dibandingkan estimasi 45 miliar dollar AS pada 2025 dan jauh di bawah proyeksi sebelumnya.
Margin laba bersih industri diprediksi menyusut menjadi 2 persen dari 4,2 persen pada tahun sebelumnya.
Laba per penumpang juga diperkirakan merosot menjadi 4,50 dollar AS dari 9,10 dollar AS pada 2025.
Meskipun demikian, pendapatan industri secara keseluruhan diproyeksikan masih tumbuh sekitar 9,4 persen pada 2026.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama industri saat ini bukan berasal dari lemahnya permintaan, melainkan dari melonjaknya biaya operasional.
Bagi kawasan Asia, situasi ini menjadi tantangan tersendiri.
Maskapai di wilayah tersebut telah menikmati pemulihan perjalanan internasional yang kuat pasca-pandemi, namun biaya operasional penerbangan meningkat secara signifikan.
Harga Avtur Menjadi Ancaman Terbesar
Bahan bakar tetap menjadi komponen biaya terbesar dalam industri penerbangan. IATA memproyeksikan biaya bahan bakar maskapai akan melonjak hampir 40 persen pada 2026.
Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan avtur sebagai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent diprediksi rata-rata mencapai 95 dollar AS per barrel pada 2026, naik dari 69 dollar AS pada 2025.