Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) secara resmi memasukkan produsen otomotif BYD ke dalam daftar hitam. Langkah ini diambil karena Washington menilai perusahaan tersebut mendukung kekuatan militer China.
Selain BYD, dokumen berjudul "Entitas yang Diidentifikasi sebagai Perusahaan Militer China yang Beroperasi di Amerika Serikat" juga mencantumkan Alibaba, Baidu, EVE Energy, Hesai, Robosense, WuXi AppTec, TP-Link, dan Unitree.
>>> Prabowo Ungkap Alasan Maju Pilpres: Arah Bangsa Keliru Sejak 1990-an
Otoritas AS menyebut BYD memiliki keterkaitan dengan Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara (SASAC) serta Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) China.
Menurut dokumen Departemen Pertahanan AS, BYD dianggap sebagai kontributor fusi militer-sipil terhadap basis industri pertahanan China.
Menanggapi kebijakan tersebut, BYD memberikan pernyataan resmi melalui dokumen yang diserahkan ke Bursa Efek Hong Kong pada Selasa (9/6/2026).
Perusahaan yang berbasis di Shenzhen ini membantah semua tuduhan yang dilayangkan AS.
>>> PT Nindya Karya Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Trenggalek dengan Sentuhan Arsitektur Majapahit
BYD menegaskan bahwa perusahaan bukanlah perusahaan militer China maupun kontributor fusi militer-sipil. Perusahaan menganggap tidak ada pembenaran untuk dimasukkan ke dalam Daftar CMC.
BYD juga menjelaskan bahwa Daftar CMC bukan daftar sanksi dan tidak mempengaruhi operasi bisnis normal.
Pembatasan pengadaan pemerintah AS terkait daftar tersebut tidak berdampak pada bisnis BYD, dan tidak membatasi transaksi sekuritas perusahaan.
>>> 12 Model iPhone yang Kompatibel dengan Apple Intelligence di iOS 27
Jika diperlukan, BYD akan memulai prosedur peninjauan atau proses hukum untuk meminta penghapusan dari daftar tersebut. Perusahaan akan membuat pengumuman lebih lanjut sesuai kebutuhan.