Manado dikenal sebagai destinasi kuliner kaya rasa. Di antara berbagai hidangan khasnya, nasi jaha menjadi salah satu yang paling diminati oleh para pelancong.
Hidangan tradisional ini terbuat dari beras ketan, santan, dan jahe, yang kemudian dibungkus daun nasi atau daun woka.
>>> 10 Dosen UNS Masuk Daftar 5 Persen Peneliti Terbaik Dunia 2025
Selanjutnya, adonan tersebut dimasukkan ke dalam selongsong bambu yang dilapisi daun pisang.
Proses pematangan dilakukan dengan cara dibakar di atas bara api, menghasilkan aroma smoky yang khas dan kuat. Kombinasi bumbu menciptakan rasa gurih dengan sensasi pedas hangat dari jahe.
Bagian luar nasi jaha terasa renyah dan kecoklatan akibat proses pembakaran, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan pulen.
>>> Asthara Skyfront City Hadirkan The Floritz Gallery, Destinasi Komersial Perdana
Meskipun terlihat sederhana, pembuatan nasi jaha membutuhkan ketelitian tinggi dalam takaran bumbu agar tidak hambar atau pahit. Pengawasan nyala api juga krusial agar tidak gosong.
Nasi jaha paling nikmat disantap bersama lauk pendamping seperti cakalang fufu, sambal roa, atau olahan rica-rica.
Hidangan ini memiliki masa kedaluwarsa singkat, hanya tiga hari, sehingga kurang ideal untuk dibawa pulang dalam perjalanan jauh kecuali dengan penerbangan langsung.
>>> Harga Memori Naik, Peta Persaingan Chipset Smartphone Global Berubah
Wisatawan dapat menemukan nasi jaha dengan mudah di berbagai tempat di Manado, mulai dari pasar tradisional, supermarket, rumah makan, hingga kafe.