⌂ Beranda News BI Catat Porsi Cicilan Masyarakat Meningkat pada Mei 2026

BI Catat Porsi Cicilan Masyarakat Meningkat pada Mei 2026

BI Catat Porsi Cicilan Masyarakat Meningkat pada Mei 2026
Ilustrasi masyarakat mengelola keuangan rumah tangga dengan porsi cicilan meningkat dan tabungan menurun.
A A Ukuran Teks16px

Porsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk pembayaran cicilan dan utang mengalami peningkatan pada Mei 2026. Bersamaan dengan itu, alokasi pendapatan untuk tabungan justru tercatat menurun.

Kondisi keuangan rumah tangga ini tercermin dalam Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) periode Mei 2026.

>>> KAI Commuter Tegur Penumpang Nekat Lawan Arah di Eskalator Stasiun KRL

Meskipun terjadi perubahan alokasi, keyakinan konsumen terhadap situasi ekonomi tetap berada pada level optimistis.

Berdasarkan data BI, rasio pembayaran cicilan terhadap pendapatan atau debt installment to income ratio menyentuh angka 10,2 persen pada Mei 2026.

Angka ini meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 9,7 persen.

Sebaliknya, rasio tabungan terhadap pendapatan atau saving to income ratio menyusut menjadi 17,5 persen. Pada bulan sebelumnya, masyarakat mengalokasikan 18,2 persen pendapatan untuk ditabung.

Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi relatif stabil.

Rata-rata proporsi konsumsi terhadap pendapatan pada Mei 2026 mencapai 72,3 persen, naik tipis dari 72,1 persen pada April 2026.

Bank Indonesia menyatakan pergeseran ini terjadi di tengah keyakinan konsumen yang tetap kuat, mencakup penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 berada di level 120,9, menunjukkan zona optimistis karena di atas ambang batas 100.

Angka ini sedikit lebih rendah dari capaian April 2026 sebesar 123,0.

Secara riil, dari setiap Rp 100 pendapatan, masyarakat rata-rata membelanjakan Rp 72,3 untuk konsumsi, Rp 10,2 untuk membayar utang, dan Rp 17,5 untuk tabungan.

Data ini mengonfirmasi ruang menabung masyarakat menjadi lebih sempit akibat peningkatan kewajiban cicilan. Perubahan komposisi penggunaan pendapatan ini tidak merata di semua lapisan masyarakat.

Kenaikan porsi pembayaran cicilan utamanya didorong oleh kelompok masyarakat dengan tingkat pengeluaran tinggi.

Rasio cicilan kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta naik menjadi 10,7 persen.

Untuk kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta, porsi pembayaran cicilan bahkan mencapai 12,8 persen.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru