Pemimpin Gereja Katolik Paus Leo XIV mengecam komunitas internasional dan para pemimpin Eropa terkait penanganan krisis migrasi.
Ia menyampaikan kritik tersebut saat mendatangi Pelabuhan Arguineguin di Kepulauan Kanaria, Spanyol, pada Kamis (11/06).
>>> Korea Selatan Kalahkan Republik Ceko 2-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Kunjungan itu merupakan bagian dari lawatan selama sepekan di Spanyol. Paus Leo XIV meneruskan fokus perjuangan perlindungan hak-hak migran dari pendahulunya, Paus Fransiskus.
Dalam aksi simbolis, Paus melemparkan karangan bunga ke laut untuk mengenang ribuan korban jiwa yang tenggelam.
"Jangan sampai sejarah mencatat bahwa kita menganggap penderitaan mereka adalah hal yang biasa di pesisir kita," ujarnya.
Paus mendesak pemerintah negara asal untuk membenahi aspek ekonomi dan keamanan. Ia juga meminta negara transit memberikan perlindungan dari pelaku perdagangan manusia.
"Hari ini, di tepi laut ini, setiap orang yang datang bertanya kepada kita: apa yang masih tersisa dari kemanusiaan kita?"
kata Paus Leo XIV.
Kritik tajam diarahkan kepada para politisi Eropa yang memperketat kebijakan migrasi akibat tekanan kelompok sayap kanan. Paus meminta mereka mendengarkan suara hati.
"Martabat manusia tidak mengenal paspor, dan tidak kehilangan nilainya hanya karena melintasi perbatasan," tegas Paus.
Di hadapan para migran yang berkumpul di dekat salib dari kayu kapal karam, Paus menyampaikan pesan langsung.
>>> Meksiko dan Korea Selatan Raih Kemenangan di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
"Saudara-saudari migran, sebelum mengatakan hal lain kepada kalian, saya ingin menundukkan diri di hadapan martabat kalian," katanya.
Paus mengingatkan agar para migran tidak dipandang sekadar data atau urusan birokrasi. "Kalian bukan sekadar angka atau berkas administrasi.
Kalian adalah manusia yang telah meninggalkan keluarga dan rumah. Kalian memiliki impian yang tidak seorang pun berhak merendahkannya," ujar Paus.
Pelabuhan Arguineguin dijuluki "dermaga rasa malu" pada 2020 akibat ribuan migran telantar di tenda darurat. Secara geografis, Kepulauan Kanaria lebih dekat ke Afrika.
Data proyek "Missing Migrants" Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat sekitar 6.600 orang tewas di jalur Atlantik sejak 2014.
Jumlah asli diprediksi jauh lebih tinggi.
Kelompok pembela hak migran Spanyol Walking Borders memperkirakan korban jiwa dan hilang mencapai lebih dari 25.000 orang sejak 2020.
Statistik kedatangan sempat memuncak pada 2024 dengan 46.000 orang.
Angka itu menurun drastis menjadi sekitar 3.000 orang selama lima bulan pertama tahun 2026. Penurunan terjadi setelah adanya kesepakatan antara Uni Eropa, Spanyol, dan negara Afrika Barat.
>>> Puluhan PKL Padati Bundaran HI Jelang Demo BEM UI
Bersamaan dengan kunjungan pada Kamis (11/06), sebuah papan nama baru dipasang secara resmi. Tempat itu kini berganti sebutan menjadi "dermaga harapan".