Tekanan ekonomi yang menghimpit daya beli masyarakat memicu pergeseran pola konsumsi ke arah kemewahan kecil, atau yang dikenal sebagai fenomena lipstick effect.
Pola ini terjadi ketika hasrat belanja masyarakat tidak hilang, melainkan berubah bentuk menjadi pembelian barang yang lebih murah.
>>> Jadwal Wakil Indonesia di Final Australian Open 14 Juni 2026
Seorang admin operasional perusahaan logistik asal Bekasi, Nadya Safitri, merasakan dampak nyata dari kenaikan harga kebutuhan pokok.
Di tengah gaji yang stagnan, ia tetap rutin membelanjakan uang untuk produk perawatan wajah.
“Kalau lagi capek banget sama kerjaan atau mikirin uang, aku tuh tetap pengin ngerawat diri.
Kayak… yaudah ini satu-satunya hal yang bikin aku senang dan bisa aku kontrol,” kata perempuan berusia 27 tahun ini.
“Kadang aku juga sadar, ini sebenarnya bukan kebutuhan banget. Tapi kalau nggak beli, rasanya malah makin stres.”
Nadya mengaku kerap membeli kosmetik baru seperti lipstik karena bosan atau tergiur tren media sosial, bukan karena produk sebelumnya telah habis.
Setiap bulan, ia bisa menghabiskan dana sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu dari upah UMR miliknya.
“Skincare kayak pelembab wajah misalnya walaupun belum habis, tapi udah pengin coba yang lain. Kayak pengin cari yang lebih cocok, padahal mungkin ya sama aja,” ujarnya.
“Kadang aku beli bukan karena butuh, tapi karena lagi pengin aja. Apalagi kalau lihat warna baru atau lagi tren, rasanya pengin ikut punya juga.”
Istilah lipstick effect mengacu pada kecenderungan konsumen untuk mengalihkan belanja besar ke barang kecil yang terjangkau saat keuangan memburuk.
Kosmetik, kopi, atau makanan viral kerap menjadi pilihan penghiburan emosional.
Konsep ini pertama kali diamati saat masa Great Depression dan dipopulerkan awal 2000-an oleh Leonard Lauder dari Estée Lauder.
Ia mencatat penjualan lipstik justru melonjak setelah krisis tahun 2001, yang kemudian dikenal sebagai lipstick index.
Dampak pada Ekonomi Makro
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai fenomena ini menjadi sinyal kurang baik bagi perekonomian makro.