Perempuan dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan ekonomi restoratif di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting untuk memperkuat peran tersebut.
Pengembangan ekonomi restoratif di Indonesia masih menghadapi tantangan. Dua persoalan utama adalah kesenjangan investasi dan keterbatasan kebijakan yang mendukung.
>>> Polisi Tangkap Pelaku Ekshibisionisme yang Resahkan Warga Ciputat
Menurut laporan Center of Economic and Law Studies (Celios) tahun 2024, Indonesia membutuhkan dana Rp 892 triliun hingga 2045 untuk menjalankan strategi ekonomi restoratif secara efektif.
Karena itu, diperlukan kebijakan yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, swasta, perusahaan sosial, organisasi komunitas, LSM, investor, donor, dan organisasi filantropi.
NTT menjadi salah satu daerah yang menjadi lokasi berbagai program ekonomi restoratif dan berkelanjutan. Pengembangan ekosistem ini dinilai penting mengingat masih adanya tantangan sosial dan ekonomi.
Berdasarkan data BPS Februari 2026, tingkat kemiskinan di NTT mencapai 17,5 persen. Prevalensi stunting berada di angka 31,4 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
NTT juga menghadapi persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta perdagangan manusia yang mayoritas korbannya perempuan.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan mengatakan persoalan tersebut saling berkaitan dan berakar pada masalah ekonomi.
"Berbagai persoalan perempuan dan anak di NTT mulai dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak, hingga stunting saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi.
Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah," kata Veronica.
Kontribusi Perempuan terhadap Ekonomi Keluarga
Di tengah tantangan tersebut, perempuan di NTT memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian keluarga. Berdasarkan Survei GoodStats 2024, kontribusi perempuan NTT terhadap pendapatan rumah tangga mencapai 42,4 persen.
Angka itu lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 36,1 persen.
Perempuan di NTT juga terlibat dalam program ekonomi restoratif seperti agroforestri bambu (Mama Bambu) dan Kebun Pangan Perempuan (KPP).
Program ini berfokus pada pelestarian lingkungan, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan keluarga.