⌂ Beranda News Haris Rusly Moti Kritik Narasi 'Indonesia Gelap' dan Gerakan Sosial Anomali

Haris Rusly Moti Kritik Narasi 'Indonesia Gelap' dan Gerakan Sosial Anomali

Haris Rusly Moti Kritik Narasi 'Indonesia Gelap' dan Gerakan Sosial Anomali
Haris Rusly Moti berbicara dalam sebuah forum
A A Ukuran Teks16px

Pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti, melontarkan kritik tajam terhadap gerakan sosial yang menyebarkan narasi pesimistis, seperti 'Indonesia Gelap', 'Kabur dari Indonesia', hingga 'Buang Rupiah'.

Ia menilai kemunculan narasi tersebut sebagai sebuah anomali dalam tradisi gerakan sosial di Indonesia.

>>> ASDP Tawarkan Diskon Tiket Hingga 100% Jelang Libur Sekolah

Menurut Haris, narasi negatif yang anti kemandirian bangsa ini sangat tidak lazim dan belum pernah dikenal sebelumnya dalam sejarah gerakan sosial di tanah air.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan era revolusi kemerdekaan, di mana Soekarno dan Mohammad Hatta secara konsisten menyuarakan kedaulatan negara.

Haris Rusly Moti menyayangkan bahwa 80 tahun setelah kemerdekaan, justru muncul narasi yang dianggapnya sebagai 'sampah' dan anti kemandirian Indonesia.

Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah berupaya membawa Indonesia menuju kemandirian melalui berbagai program kerja.

Haris menyoroti langkah Presiden Prabowo dalam memberantas kebocoran penerimaan negara, seperti praktik under invoicing dan transfer pricing, yang menurutnya lebih mendasar daripada sekadar memberantas korupsi belanja negara.

Haris Rusly Moti mencontohkan gerakan pada masa Orde Baru dan reformasi yang selalu membawa narasi alternatif yang membangun.

Gerakan tersebut tidak bersikap antipati terhadap program pro-rakyat.

>>> Piala Dunia 2026: Panggung Ekonomi Baru bagi Negara Arab

Ia menyoroti gerakan sosial politik era Orde Baru yang membangun narasi demokrasi politik sebagai antitesis dari negara otoriter.

Di era reformasi, gerakan sosial melancarkan gerakan anti kebijakan neoliberalisme yang melakukan privatisasi BUMN dan mencabut subsidi untuk kepentingan rakyat.

Gerakan yang menolak program kesejahteraan rakyat diprediksi tidak akan mendapat tempat di hati masyarakat.

Haris berpendapat bahwa gerakan sosial yang menolak alokasi APBN untuk rakyat, menolak program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), kampung nelayan, dan sekolah rakyat adalah anomali paling ekstrem dalam tradisi gerakan sosial.

Ia yakin gerakan semacam ini tidak akan pernah mendapat simpati dan dukungan luas dari rakyat.

Haris juga menambahkan bahwa program MBG memerlukan waktu proses yang wajar agar hasilnya dapat maksimal.

Haris Rusly Moti menjelaskan bahwa sejumlah program bantuan sosial pemerintah yang sudah berlangsung lama saja masih dikorupsi.

>>> BMW M Concept Neue Klasse Meluncur di Le Mans, Tunjukkan Arah Mobil Listrik Sport

Hal ini menjadi pertimbangan mengingat program MBG yang baru dirintis dan merupakan pengalaman pertama negara mengelola makan bergizi gratis untuk pelajar.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru