⌂ Beranda News BGN Rancang Ulang Penerima Program Makan Bergizi Gratis

BGN Rancang Ulang Penerima Program Makan Bergizi Gratis

BGN Rancang Ulang Penerima Program Makan Bergizi Gratis
Ilustrasi program Makan Bergizi Gratis
A A Ukuran Teks16px

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah melakukan rancang ulang serta pemfokusan kembali terhadap sasaran penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah efisiensi ini berpotensi memangkas kepesertaan bagi siswa sekolah menengah atas (SMA) yang berasal dari keluarga mampu.

>>> Uji IQ Mensa 2026: Skor AI Grok dan GPT Ungguli Manusia

Rencana pengerucutan target penerima subsidi makanan ini memicu respons dari Dewan Perwakilan Rakyat.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan peninjauan ulang sasaran anggaran negara tersebut.

"Saya berpendapat langkah untuk menghentikan pemberian MBG kepada siswa SMA bukan hanya layak dipertimbangkan, tetapi memang harus dilakukan sebagai bagian dari refocusing program," ujar Charles Honoris.

Charles menyatakan bahwa prioritas utama dari program nasional ini adalah penuntasan masalah stunting serta perbaikan pemenuhan nutrisi.

Maka dari itu, instrumen finansial pemerintah sepatutnya diarahkan kepada kelompok masyarakat yang paling rentan mengalami defisit gizi.

"Kita harus berani membedakan antara kebutuhan akan makanan bergizi dan kebutuhan akan intervensi negara.

Semua anak tentu membutuhkan makanan bergizi, tetapi tidak semua anak membutuhkan subsidi makan dari negara.

Dalam kondisi fiskal yang semakin terbatas, bantuan pemerintah harus prioritaskan kepada mereka yang paling membutuhkan," sambung Charles.

Fase pertumbuhan paling krusial bagi anak dinilai sudah terlewati oleh sebagian besar siswa pada jenjang SMA.

Atas dasar tersebut, alokasi dana akan memberikan dampak yang jauh lebih optimal apabila dialihkan kepada pemenuhan nutrisi bagi ibu hamil maupun balita.

"Saya justru melihat kepemimpinan baru di BGN harus berani melakukan desain ulang program secara menyeluruh.

Jika penerima manfaat difokuskan pada ibu hamil, ibu menyusui, serta anak-anak sekolah dari keluarga desil 1 sampai 3, jumlah penerima manfaat diperkirakan hanya sekitar 25 juta orang.

Bahkan jika siswa SMA tidak lagi menjadi sasaran program, jumlah tersebut bisa lebih rendah lagi," lanjut Charles.

Pengurangan jumlah sasaran tersebut diprediksi mampu menekan pengeluaran negara dalam skala besar.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru