⌂ Beranda News Saham BUMI dan BRMS Melonjak di Tengah Diversifikasi Bisnis

Saham BUMI dan BRMS Melonjak di Tengah Diversifikasi Bisnis

Saham BUMI dan BRMS Melonjak di Tengah Diversifikasi Bisnis
Grafik saham BUMI dan BRMS di BEI
A A Ukuran Teks16px

Harga saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) melonjak signifikan pada perdagangan awal pekan di Bursa Efek Indonesia, Senin, 15 Juni 2026.

Lonjakan ini ditopang oleh realisasi diversifikasi bisnis non-batubara yang mulai membuahkan hasil.

>>> Paradoks Politik Trump: Seruan Damai di Tengah Perang Timur Tengah

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan saham BRMS menguat 24,53 persen ke posisi Rp660 per lembar. Akumulasi penguatan dalam sepekan terakhir mencapai 38,66 persen.

Sementara itu, saham BUMI melesat 15,29 persen ke level Rp181 per lembar.

Volume perdagangan mencapai 8,836 miliar lembar saham senilai Rp1,563 triliun dalam 137,1 ribu kali transaksi.

Lonjakan harga saham BUMI memicu aksi ambil untung oleh investor asing.

Mereka membukukan penjualan bersih sebesar Rp179,47 miliar atau setara 1,02 miliar lembar saham di pasar reguler sesi pertama.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan akhir pekan sebelumnya, Jumat, 12 Mei 2026, saat investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp53,22 miliar pada saham BUMI.

Pelepasan aset oleh pihak asing terjadi saat performa saham BUMI dalam jangka panjang masih tertekan.

Saham BUMI melemah 15,42 persen dalam sebulan terakhir dan merosot hingga 50,82 persen secara tahun berjalan.

CGS International Sekuritas Indonesia melansir proyeksi teknikal yang menempatkan target harga terdekat saham BUMI pada rentang Rp165 hingga Rp173.

Area support berada pada kisaran Rp135 sampai Rp146.

>>> Pemprov DKI Jakarta Buka Pendaftaran SPMB 2026 dengan Kuota 245.980 Kursi

Penguatan instrumen investasi ini sejalan dengan langkah nyata BUMI mengurangi ketergantungan pada batubara melalui investasi mineral strategis.

Salah satunya proyek Wolfram Limited di Queensland, Australia yang ditargetkan menambang pada April 2026.

Proyek Wolfram diproyeksikan memulai produksi komersial antara Mei hingga Juli 2026.

Target tahun pertama menghasilkan 12.000 hingga 15.000 ton copper equivalent serta mengamankan kontrak offtake tujuh tahun bersama Glencore.

Analis Panin Sekuritas Cliff Nathaniel memberikan pandangan mengenai dampak kepastian pemasaran hasil produksi tambang Mt. Carlton tersebut terhadap posisi komersial korporasi di pasar.

"Offtake 7 tahun dengan Glencore memberi commercial certainty bagi Wolfram.

BUMI kini tidak hanya masuk ke aset non-batubara, tetapi juga sudah memiliki jalur pemasaran yang jelas untuk hasil produksinya," kata Cliff, Jumat (12/6/2026).

Selain Wolfram, emiten ini menyiapkan Jubilee Metals Limited untuk produksi kuartal IV 2026.

Mereka juga menargetkan akuisisi 45 persen saham PT Laman Mining rampung pada Agustus 2026 demi mengejar komposisi EBITDA 50:50 dengan batubara sebelum 2031.

Langkah ekspansi non-batubara didukung kinerja kuartal I 2026 yang solid.

>>> Polisi Gagalkan Tawuran Remaja yang Hendak Disiarkan Live Instagram di Parung

Pendapatan inti batubara naik 19,7 persen menjadi US$417,7 juta dan laba bersih tumbuh 36,6 persen menjadi US$41,1 juta akibat efisiensi operasional.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru