⌂ Beranda News PT Provident Investasi Bersama Tbk Tak Pasang Target Pendapatan 2026

PT Provident Investasi Bersama Tbk Tak Pasang Target Pendapatan 2026

PT Provident Investasi Bersama Tbk Tak Pasang Target Pendapatan 2026
Rapat Umum Pemegang Saham PT Provident Investasi Bersama Tbk
A A Ukuran Teks16px

PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) memutuskan untuk tidak menetapkan target pendapatan tertentu sepanjang tahun 2026.

Keputusan ini diambil karena karakteristik kinerja perusahaan investasi yang sangat bergantung pada pergerakan harga saham portofolio.

>>> BNN Usulkan Tambahan Anggaran Rp 5,05 Triliun untuk Program 2027

Manajemen menjelaskan bahwa model bisnis perusahaan investasi berbeda dengan sektor manufaktur atau perdagangan. Mayoritas pendapatan PALM bersumber langsung dari investasi saham, sehingga proyeksi pendapatan secara pasti sulit ditentukan.

"Jadi kita tidak ada target pendapatan karena pendapatan kita itu sebagian besar dipengaruhi oleh pergerakan saham," ujar Ellen Kartika, Direktur PALM.

Meskipun tidak mematok target angka pendapatan, jajaran direksi menegaskan proses due diligence dan kajian investasi tetap dijalankan secara ketat.

Tujuannya adalah untuk menyasar perusahaan berfundamental kuat.

Selain itu, emiten berkode saham PALM ini juga terus mengidentifikasi peluang divestasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.

"Dan juga kalau misalnya ada kesempatan divestasi, kita juga senantiasa mengidentifikasi hal tersebut," kata Ellen Kartika.

Terkait alokasi keuntungan, perusahaan juga belum merumuskan kebijakan dividen tetap maupun target pembagian dividen tertentu untuk periode tahun depan.

Keputusan mengenai dividen akan menyesuaikan kondisi arus kas dan kebutuhan anggaran untuk rencana investasi baru.

>>> Massa Aliansi Jakarta Timur Bubarkan Diri dari Patung Kuda, Lalu Lintas Normal

"Jadi nanti untuk dividennya di tahun depan juga kita tidak ada dividend policy tertentu, tidak ada target tertentu.

Semuanya nanti akan ditentukan berdasarkan cash flow yang tersedia dan budget kita untuk investasi," jelas Ellen Kartika.

Mekanisme pencatatan pendapatan yang unik pada sektor ini diperjelas oleh jajaran direksi. Nilai portofolio dihitung berdasarkan volume kepemilikan saham dikalikan dengan harga pasar yang berlaku pada periode pelaporan.

"Jadi kalau ditanya target pendapatan, pencatatan kita itu jumlah saham yang kita miliki dikali dengan harga pasar pada tahap tertentu," kata Tri Boewono, Presiden Direktur PALM.

Tri Boewono mencontohkan kepemilikan saham di PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) atau PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Nilainya akan disesuaikan dengan harga pasar saat laporan keuangan disusun, lalu dibandingkan dengan harga perolehan awal.

"Jadi kalau misalnya saham yang waktu kita beli Rp 1.000 atau tahun lalunya Rp 1.000, kemudian menjadi Rp 1.500 dan kita masih memiliki saham tersebut, berarti ada keuntungan atau pencatatan kenaikan nilai pasar sebesar Rp 500 per saham dikalikan dengan jumlah saham yang dimiliki," ujarnya.

>>> PPATK Waspadai Lonjakan Judi Online Jelang Piala Dunia 2026

Hal ini berbeda dengan perusahaan dagang, perusahaan manufaktur, dan sejenisnya, yang perlu dipahami oleh publik.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru