"Setiap kali kami merasa sudah sampai, ternyata masih harus berbelok lagi.
Begitu melihat kerumunan suporter dan jersey dari berbagai negara, semua itu memang terlupakan," ungkap Elodie Martin, wisatawan asal Prancis.
Martin menyayangkan ketidakpraktisan akses masuk ini untuk sebuah turnamen sepak bola berskala internasional.
"Namun kalau ditanya apakah prosesnya lancar, jawabannya tidak juga. Untuk acara sebesar Piala Dunia, saya berharap aksesnya lebih mudah," tambah Martin.
Sebagai alternatif, sebagian penonton memilih menggunakan taksi dari Manhattan dengan tarif mencapai USD 120 atau Rp 2,1 juta, yang kemudian diakali dengan sistem berbagi tumpangan.
Persoalan ini diperkirakan terus berlanjut setelah laga usai karena laporan adanya antrean Uber dan Lyft hingga berjam-jam pada pertandingan sebelumnya.
Pemerintah daerah telah menyadari penumpukan massa ini dan mencoba menyediakan solusi transportasi massal lain dari Manhattan.
"Kami berharap perjalanan menuju stadion menjadi lebih mudah. Yang lebih kami khawatirkan justru perjalanan pulang.
>>> Persebaya Resmi Rekrut Ramadhan Sananta Jelang HUT ke-99
Kami ingin memastikan semua orang mendapatkan pengalaman yang lebih baik," kata Kathy Hochul, Gubernur New York.