Rasa ragu dan malu sering menjadi penghalang utama saat berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Namun, penelitian terbaru dari Doshisha University, Jepang, menemukan bahwa keberanian berbicara tidak semata-mata ditentukan oleh penguasaan kosakata.
>>> Kementerian Kebudayaan Luncurkan Program Conviver dan Territórios Verdes di Parana
Studi yang dipublikasikan pada 13 Maret 2026 di British Journal of Educational Psychology ini melibatkan hampir 400 mahasiswa dari lima universitas.
Hasilnya menunjukkan bahwa rasa percaya diri berkembang pesat ketika kebutuhan psikologis pelajar terpenuhi.
Mahasiswa merasa berani memulai percakapan tanpa takut salah saat mereka merasa memegang kendali atas proses belajar, merasa mampu berkembang, dan diterima oleh lingkungannya.
Peran Aktif Mahasiswa dalam Membangun Atmosfer Belajar
Selama ini, tanggung jawab membangun atmosfer belajar positif sering dibebankan sepenuhnya kepada pengajar. Namun, Profesor Yoshiyuki Nakata bersama timnya menemukan bahwa andil siswa sendiri juga sangat besar.
Tingkat kepuasan belajar siswa meningkat secara mandiri ketika mereka aktif menolong rekan atau memberikan respons positif saat kerja kelompok.
Hal ini terjadi tanpa bergantung pada dukungan guru.
"Guru memang penting untuk menumbuhkan lingkungan kelas yang mendukung.
>>> Saham GOTO Stagnan di Rp 50 Meski Ada Rencana Buyback Rp 3,5 Triliun
Namun, saat siswa juga berkontribusi dalam pembelajaran, mereka berada di posisi yang lebih baik untuk belajar bahasa asing," jelas Nakata.
Kolaborasi saling mendukung antara pengajar, rekan sebaya, dan diri sendiri menjadi kekuatan kolektif. Elemen-elemen ini berjalan beriringan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris seluruh kelas.
Tiga Pilar Utama Pendukung Pembelajaran
Penelitian ini membagikan strategi praktis yang dapat diterapkan pendidik maupun pelajar. Sistem pendukung di ruang kelas dikelompokkan menjadi tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah sokongan guru ke kelas, berupa penyediaan alat bantu belajar yang tepat dan pendampingan emosional agar siswa tidak tertekan saat melakukan kesalahan.
Pilar kedua bertumpu pada kontribusi individu ke kelas, melatih siswa saling menolong saat beraktivitas berpasangan atau berkelompok. Pola ini mengikis kebiasaan kompetisi tidak sehat.
Pilar ketiga adalah dukungan dari teman sebaya untuk membentuk kebiasaan saling menyemangati dan menyelaraskan ritme belajar secara kolektif.
>>> Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polres Bogor Bedah 8 Rumah Warga
Ruang kelas yang inklusif dan suportif menjadi modal utama membangun kepercayaan diri.