Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, berpeluang turun di Indonesia.
Hal ini menyusul melemahnya harga minyak mentah dunia setelah pengumuman kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
>>> Piala Dunia 2026: Empat Laga Grup A dan B Digelar 18-19 Juni
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan bahwa pergerakan harga BBM nonsubsidi selalu mengikuti harga keekonomian global.
Penurunan harga minyak dunia dipastikan akan berimbas pada penurunan harga jual Pertamax dan varian BBM nonsubsidi lainnya.
"Apakah harganya bisa turun? Pasti.
Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun.
Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya," beber Anggia di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).
Dwi Anggia menekankan pentingnya penyesuaian harga ini terhadap ketahanan stok energi di dalam negeri. "Kalau tidak ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional," tambahnya.
Harga Minyak Dunia Anjlok
Dilansir dari Reuters, harga minyak dunia merosot sekitar 5 persen pada perdagangan hari Selasa hingga menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Kondisi ini dipicu oleh kesepakatan damai AS-Iran dan pembukaan Selat Hormuz yang memungkinkan Iran kembali memasok minyak ke pasar global.
Harga minyak mentah Brent dilaporkan turun US$ 4,21 atau 5,1 persen ke level US$ 78,96 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok US$ 4,70 atau 5,8 persen menjadi US$ 76,05 per barel.
Penurunan tersebut mencatat rekor terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret.
Sebagai perbandingan, sebelum konflik AS-Iran pecah pada 28 Februari, Brent berada di posisi US$ 72,48 per barel dan WTI pada posisi US$ 67,02 per barel.
Kementerian ESDM mencatat bahwa negara-negara tetangga sebenarnya sudah menaikkan harga BBM nonsubsidi lebih dulu.