⌂ Beranda News Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi 439,8 Miliar Dollar AS pada April 2026

Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi 439,8 Miliar Dollar AS pada April 2026

Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi 439,8 Miliar Dollar AS pada April 2026
Grafik utang luar negeri Indonesia dari Singapura
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat menjadi 439,8 miliar dollar AS pada April 2026.

Angka ini naik dari 433,4 miliar dollar AS pada triwulan I 2026.

>>> Cara Daftar Excel Intensive Bootcamp Advanced Piranha Smart Center

Dengan asumsi kurs Rp 17.700 per dollar AS, total pinjaman luar negeri tersebut setara dengan kenaikan dari Rp 7.671 triliun menjadi kisaran Rp 7.784 triliun.

Secara tahunan, pertumbuhan ULN mencapai 1,9 persen (yoy), melonjak dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 0,8 persen.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa peningkatan ini didorong oleh penambahan utang sektor publik. Sementara itu, sektor swasta masih melanjutkan tren kontraksi.

Kekhawatiran Pengamat Ekonomi

Peningkatan ULN mendapat perhatian pengamat ekonomi karena dianggap mencerminkan penurunan kepercayaan pasar terhadap surat utang domestik. Kondisi pembiayaan APBN dinilai kian rentan akibat fluktuasi nilai tukar.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan bahwa ULN melonjak karena pemerintah semakin kesulitan menjual Surat Berharga Negara (SBN).

Investor khawatir dengan risiko nilai tukar yang tinggi.

>>> Mengapa Harga BBM di Indonesia Kerap Naik Turun? Ini Faktor Penentunya

Indikator penurunan minat beli terlihat dari rendahnya rasio bid to cover pada lelang SBN yang merosot di bawah 2,5 kali.

Wijayanto juga menyoroti bahwa porsi penarikan dana luar negeri dengan denominasi valuta asing berdampak kurang baik bagi stabilitas anggaran.

Depresiasi nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini diproyeksikan menambah beban finansial pemerintah hingga Rp 150 triliun sampai Rp 175 triliun secara otomatis.

Langkah koreksi kebijakan struktural dinilai perlu segera diambil, termasuk penghematan belanja negara.

Wijayanto menilai penarikan pinjaman dari lembaga keuangan internasional lebih menguntungkan dibandingkan ketergantungan pada surat utang yang porsinya saat ini mencapai 87 persen dari total pembiayaan negara.

"Loan lebih murah dan lebih mudah direstrukturisasi," ujarnya.

>>> Polisi Tangkap Pencuri Motor yang Menceburkan Diri ke Kali Tangerang

Beberapa lembaga seperti World Bank, Asian Development Bank, dan Japan International Cooperation Agency dianggap bisa menjadi alternatif penyedia dana dengan pengawasan ketat.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru