⌂ Beranda News BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen, Kredit Baru Mulai Terdampak

BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen, Kredit Baru Mulai Terdampak

BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen, Kredit Baru Mulai Terdampak
Gedung Bank Indonesia di Jakarta
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75 persen. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi global.

Kenaikan tersebut mulai berdampak pada sektor perbankan.

>>> FIFA Ubah Aturan Posisi Fotografer Usai Protes Thomas Tuchel

Rata-rata suku bunga dasar kredit masih stabil di level 8,7 persen pada Mei 2026, namun bunga kredit baru melonjak menjadi 9,31 persen dari sebelumnya 8,95 persen.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan kenaikan BI Rate diperlukan untuk stabilitas makroekonomi. Namun, konsekuensinya adalah biaya dana perbankan meningkat dan akan diteruskan ke suku bunga kredit.

Menurut Josua, sektor yang berisiko melambat antara lain kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan bermotor, kredit konsumsi, dan pembiayaan UMKM.

Ia menambahkan bahwa kenaikan suku bunga biasanya memiliki jeda waktu sebelum berdampak penuh.

Meski demikian, fundamental perbankan nasional masih kokoh.

>>> Meta Resmi Luncurkan WhatsApp Plus Berbayar di Indonesia, Cek Fiturnya

Pertumbuhan kredit mencapai 11,51 persen secara tahunan pada Mei 2026, didorong kenaikan investasi 21,95 persen, modal kerja 8,09 persen, dan konsumsi 5,89 persen.

Josua menilai likuiditas perbankan masih memadai. Dalam jangka pendek, dampak kenaikan suku bunga terhadap penyaluran kredit kemungkinan masih terbatas.

Dunia usaha kini harus melakukan kalkulasi ekspansi lebih ketat. Kombinasi lonjakan biaya pinjaman, pelemahan nilai tukar, dan penurunan permintaan global menjadi tantangan.

Josua mendorong agar insentif likuiditas makroprudensial diarahkan ke sektor produktif seperti manufaktur, ketahanan pangan, ekspor, dan UMKM.

Pemerintah juga diminta mengoptimalkan instrumen fiskal untuk menjaga daya beli dan mempercepat belanja negara.

>>> Wali Kota Bandung Tutup Alun-Alun Akibat Hasil Renovasi Buruk

"Keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan menjadi kunci. BI fokus menjaga stabilitas rupiah, sementara pemerintah perlu memastikan momentum pertumbuhan tetap terjaga," ujar Josua.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru