⌂ Beranda News Kementan Peringatkan Risiko Penggunaan Paracetamol pada Tanaman Cabai

Kementan Peringatkan Risiko Penggunaan Paracetamol pada Tanaman Cabai

Kementan Peringatkan Risiko Penggunaan Paracetamol pada Tanaman Cabai
Ilustrasi petani menggunakan paracetamol pada tanaman cabai
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan peringatan mengenai risiko penggunaan paracetamol dan vitamin B complex untuk menyuburkan tanaman cabai.

Peringatan ini muncul setelah viralnya seorang petani yang mengaplikasikan obat-obatan manusia tersebut pada lahan pertaniannya.

>>> Harga Emas Antam Anjlok Rp30.000 per Gram, Buyback Turun Lebih Dalam

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyatakan bahwa belum ada kajian resmi di Indonesia yang merekomendasikan paracetamol sebagai sarana produksi pertanian.

Potensi Bahaya Penggunaan Obat Manusia pada Tanaman

Penggunaan obat manusia pada tanaman secara luas tanpa dasar ilmiah dan pengawasan dapat memicu berbagai potensi bahaya.

Salah satunya adalah munculnya residu senyawa farmasi pada lingkungan yang berpotensi masuk ke dalam rantai pangan jika diaplikasikan secara berlebihan.

Praktik ini juga dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme dalam tanah serta merusak ekosistem pertanian. Selain itu, berpotensi menyebabkan pemborosan biaya produksi karena efektivitasnya belum terbukti secara ilmiah.

Dampak lain berkaitan dengan persepsi keliru di masyarakat, di mana publik mungkin mengira obat manusia bisa menggantikan input pertanian yang telah resmi terdaftar dan melalui pengujian.

Beberapa riset internasional mengindikasikan tanaman dapat menyerap paracetamol dan mengakumulasikannya pada jaringan tanaman dalam kondisi tertentu.

>>> UEA Larang Anak di Bawah 15 Tahun Gunakan Media Sosial

Namun, penelitian tersebut baru dilakukan dalam skala laboratorium dan belum dapat dijadikan landasan untuk rekomendasi budidaya pertanian massal.

Agung menduga fenomena ini dipicu oleh upaya petani mencari alternatif murah di tengah melambungnya biaya produksi. Namun, dari segi ilmiah dan regulasi, metode ini belum memiliki rekomendasi resmi.

Petani disarankan untuk tetap menerapkan metode budidaya yang teruji dan mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) yang dianggap paling aman bagi petani maupun konsumen.

Untuk mengantisipasi tren ini, Kementan terus melakukan pengawasan melalui penyuluhan dan pendampingan budidaya langsung di lapangan.

Petani diberikan edukasi mengenai penggunaan sarana produksi yang sesuai rekomendasi resmi, termasuk pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang telah memiliki izin edar serta lolos uji keamanan.

>>> Atasi WiFi Lemot di HP: 15 Langkah Praktis untuk Koneksi Lancar

Koordinasi dengan dinas pertanian daerah juga ditingkatkan untuk memperluas literasi petani terhadap informasi yang beredar di media sosial agar tidak mudah mengikuti praktik yang belum terbukti secara ilmiah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru