JAKARTA — Peningkatan konsumsi masyarakat yang terjadi belakangan ini tidak serta-merta mencerminkan optimisme terhadap kondisi ekonomi.
Di balik tingginya belanja rumah tangga, terdapat perbedaan motif yang cukup tajam antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan kelas menengah-bawah.
>>> Wakil Asia Raih Hasil Positif pada Laga Perdana Piala Dunia 2026
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma menilai lonjakan konsumsi saat ini lebih tepat disebut sebagai kombinasi antara optimistis di kalangan kelas atas dan pesimistis yang terselubung di kelompok kelas menengah serta generasi muda.
"Peningkatan konsumsi yang kita lihat saat ini tidak bisa lagi dibaca secara tunggal sebagai sinyal optimisme.
Sebaliknya, di balik angka perputaran uang yang tinggi, terjadi pembelahan motif yang kuat antara kelas atas dan kelas menengah-bawah," ujarnya kepada Kompas.
com pada Jumat (19/6/2026).
Menurut Rahma, bagi sebagian besar kelas menengah, terutama Generasi Z dan Milenial, meningkatnya pengeluaran untuk sektor hiburan, gaya hidup, rekreasi, hingga barang-barang viral justru menjadi indikasi menurunnya keyakinan terhadap kemampuan mereka mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
"Konsumsi tinggi terjadi karena mereka memilih menyerap utilitas atau kebahagiaan dari uangnya sekarang daripada menyimpannya untuk masa depan yang tidak pasti," katanya.
Rahma menjelaskan, ketika instrumen tabungan dan investasi dinilai tidak lagi mampu mengejar kenaikan harga aset seperti rumah, sebagian masyarakat mulai mengalami apa yang disebut sebagai nihilisme finansial.
Dalam kondisi tersebut, uang lebih banyak dialihkan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan kepuasan jangka pendek.
Pengeluaran untuk kegiatan seperti liburan, konser, kuliner, atau berbagai bentuk self-reward dinilai menjadi cara untuk mengurangi tekanan psikologis akibat ketidakpastian ekonomi dan pasar kerja.
>>> Barantum Catat Pertumbuhan Pengguna Aplikasi CRM di Indonesia
"Di tengah ketidakpastian pasar kerja dan ancaman PHK, mengonsumsi sesuatu yang instan memberikan perasaan bahwa mereka masih memiliki kendali atas hidup dan hasil kerja keras mereka sendiri," ujarnya.
Konsumsi Kelas Atas Cerminkan Optimisme
Namun, kondisi berbeda terjadi pada kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Rahma menilai konsumsi yang meningkat pada segmen ini memang mencerminkan optimisme ekonomi yang lebih nyata.