Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengamankan 13 pendaki ilegal di Gunung Semeru dalam dua operasi terpisah di Lumajang dan Malang.
Empat orang lainnya, termasuk pemandu dan porter, masih dalam pengejaran petugas. Mereka diduga bersembunyi di kawasan hutan sekitar Semeru.
>>> Marc Marquez Kuasai Free Practice I MotoGP Ceko 2026 Meski Sempat Jatuh
Penangkapan di Lumajang dan Malang
Operasi pertama dilakukan di Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Ranupani, Lumajang, pada 13 Juni 2026. Petugas menjaring dua pendaki yang melewati jalur Ayek-Ayek.
Salah satu pelaku diketahui telah melakukan survei jalur pada Mei 2026. Keduanya sempat kabur ke perkebunan warga, namun warga berhasil menangkap dan menyerahkan mereka ke TNBTS.
Operasi kedua digelar di RPTN Taman Satriyan, Malang, tepatnya di kawasan situs purbakala Desa Mulyoasri. Petugas mencegat rombongan yang diduga hendak menuju puncak Semeru melalui jalur terlarang.
Dari total 15 orang dalam rombongan, petugas mengamankan 11 orang. Sisanya belum tertangkap.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menegaskan bahwa penindakan ini merupakan bentuk komitmen menjaga kawasan konservasi dan keselamatan masyarakat.
"Aktivitas pendakian menuju area yang ditutup merupakan pelanggaran dan berpotensi membahayakan keselamatan," ujar Rudijanta, Selasa (16/6).
>>> Brasil Targetkan Kemenangan Lawan Haiti di Piala Dunia 2026
Jalur Ilegal Berbahaya
Salah satu akses yang kerap digunakan pendaki ilegal adalah jalur purbakala melalui kawasan Candi Jawar di Ampelgading, Malang.
Jalur ini dikenal sangat berbahaya dan kerap menyebabkan pendaki tersesat.
Bahkan, pernah ada pendaki yang jatuh ke jurang sedalam hampir 700 meter. Jalur tikus serupa juga ditemukan di Lumajang untuk menghindari pos penjagaan.
Penutupan jalur pendakian Gunung Semeru dilakukan karena aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif.
Jalur resmi pendakian adalah melalui Ranupani-Ranu Kumbolo-Kalimati-Mahameru, namun saat ini pendakian hanya diperbolehkan sampai Ranu Kumbolo.
Rudijanta mengimbau masyarakat untuk mematuhi peraturan dan tidak melakukan pendakian ilegal. TNBTS terus menggencarkan sosialisasi dan patroli gabungan di setiap jalur tikus.
>>> Yasin Ayari Cetak Dua Gol, Enggan Selebrasi demi Hormati Tunisia
Masyarakat sekitar kini lebih responsif melaporkan pergerakan pendaki mencurigakan. "Hal ini terbukti berjalan baik, ketika pendaki di luar jalur dilaporkan atau diamankan oleh masyarakat," pungkas Rudijanta.
