Apple memperingatkan bahwa harga iPhone generasi mendatang berpotensi melonjak signifikan. Kenaikan ini dipicu oleh krisis memori RAM dan gangguan rantai pasok komponen semikonduktor global.
Permintaan memori RAM melonjak drastis seiring perkembangan teknologi AI dan operasi server skala besar.
>>> Polda Riau Matangkan Persiapan Hari Bhayangkara ke-80 dengan Aksi Sosial dan Olahraga
Produsen memori kini memprioritaskan lini produksi untuk produk berbasis kecerdasan buatan, mengorbankan pasokan untuk gawai konsumen.
Situasi diperparah oleh konflik bersenjata di Iran yang mengganggu distribusi gas helium, bahan krusial dalam manufaktur semikonduktor.
Hambatan rantai pasok ini mengerek biaya produksi komponen elektronik ke level lebih tinggi.
iPhone Fold Berpotensi Jadi Ponsel Termahal
Perhatian publik kini tertuju pada proyek iPhone Fold, ponsel lipat yang dirumorkan akan diperkenalkan akhir tahun ini.
>>> Timnas Portugal Bantah Pemain Terlalu Banyak Bersantai di Pantai Florida
Perangkat dengan mekanisme lipat seperti buku dan layar seukuran tablet itu diperkirakan dibanderol USD 2.000 hingga USD 2.600, atau sekitar Rp 35-50 juta untuk varian tertinggi, belum termasuk pajak impor.
CEO Apple sebelumnya, Tim Cook, mengakui perusahaan berusaha menekan kenaikan harga yang dibebankan pemasok.
"Kami melakukan yang terbaik untuk mengurangi kenaikan harga yang sangat besar, tetapi situasinya telah menjadi tidak berkelanjutan," ujarnya kepada Wall Street Journal.
Cook menambahkan bahwa penyusutan pasokan terjadi saat minat konsumen terhadap perangkat baru sedang tinggi.
>>> Polri Tangkap Pengendali Keuangan Jaringan Fredy Pratama di Malaysia
Produsen memori menaikkan harga jual komponen secara signifikan, mendorong Apple untuk mendesak harga dan pasokan memori kembali ke tingkat wajar bagi produk konsumen.
