Kebiasaan mengganti oli mesin mobil setiap 10.000 kilometer atau enam bulan kini dipertanyakan.
Patokan odometer tersebut dinilai tidak tepat untuk kendaraan yang sering terjebak kemacetan di kota besar.
>>> Klaim 'Bebas Bahan Kimia' dalam Iklan: Antara Mitos dan Fakta Ilmiah
Pemilik Bengkel Kafka di Bogor, Kamal, menjelaskan bahwa durasi mesin menyala saat macet tidak tercatat di odometer. Akibatnya, beban kerja pelumas jauh lebih berat dari jarak yang tertera.
"Domisili Jakarta, macet setiap hari, pagi 2 jam, sore 2 jam. Tambah manasin mesin, tambah di parkiran, tambah tunggu istri.
Berapa ribu kilometer itu engine running? Yang tidak masuk ke hitungan kilometer," ujar Kamal kepada Kompas.
com.
Beban tinggi akibat suhu panas saat macet lambat laun merusak kualitas pelumas. Dampak paling sering adalah penumpukan lumpur oli atau oil sludge.
Penumpukan lumpur tidak langsung terlihat pada mobil baru. Prosesnya terjadi bertahap seiring waktu penggunaan.
>>> Saham Danantara Topang IHSG di Tengah Volatilitas Pasar
"Penumpukan sludge itu bukan di kilometer 0 sampai 50.000. Penumpukan itu akan terjadi dari 0 ke 50.000 disambung ke berikutnya.
Itu makanya, oil sludge itu menumpuk sedikit, sedikit, sampai akhirnya parah," kata Kamal.
Jika lumpur sudah parah, saluran pelumasan bisa tersumbat. Risiko fatalnya adalah mesin jebol hingga perlu turun mesin.
Solusi: Percepat Interval Ganti Oli
Untuk menghindari biaya perbaikan besar, pemilik kendaraan disarankan tidak hanya terpaku pada angka odometer. Interval penggantian oli sebaiknya dipercepat.
Kamal menyarankan penggantian oli setiap 5.000 kilometer atau maksimal enam bulan bagi yang sering macet. "Jantungnya mesin itu oli.
>>> Promo Super Indo 18-24 Juni 2026: Diskon hingga 40% untuk Member
Kalau kita merawat, olinya bagus, pergantiannya bagus, mesin enggak akan kenapa-kenapa," pungkasnya.