Potensi penurunan harga sulfur global seiring normalisasi aktivitas di Selat Hormuz diperkirakan menjadi katalis positif bagi emiten nikel berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Sulfur atau belerang merupakan bahan baku penting dalam industri pengolahan nikel, terutama pada smelter yang menggunakan teknologi HPAL.
>>> Harga Buyback Emas Antam, Galeri 24, dan UBS Turun 20 Juni 2026
Dalam proses HPAL, sulfur diolah menjadi asam sulfat yang berfungsi melarutkan kandungan nikel dan kobalt dari bijih nikel kadar rendah atau limonit.
Hasil pengolahan tersebut kemudian menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.
Berdasarkan data Trading Economics, harga sulfur jatuh menjadi 8.967,67 Chinese Yuan per ton (CNY/T) pada Kamis (18/6/2026), turun 3,93 persen dari hari sebelumnya.
Selama sebulan terakhir, harga belerang telah naik 19,04 persen, dan meningkat 290,29 persen dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.
Dampak Normalisasi Selat Hormuz
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai normalisasi Selat Hormuz memberikan dampak positif bagi emiten nikel di tanah air yang menggunakan teknologi HPAL.
“Belerang atau sulfur itu memegang peran penting yang sangat krusial, khususnya bagi metode yang mengadopsi teknologi HPAL untuk memproses nikel kadar rendah atau limonit menjadi MHP,” ujar Nafan kepada Kompas.
com, Jumat (19/6/2026).
Dalam fasilitas HPAL, sulfur diproses menjadi asam sulfat yang digunakan untuk melarutkan kandungan nikel dan kobalt dari bijih limonit.
Biaya sulfur dan berbagai reagen kimia tersebut dapat berkontribusi sekitar 15-25 persen terhadap total biaya produksi MHP.
“Untuk pabrik HPAL, sulfur itu diproses menjadi asam sulfat yang digunakan untuk melarutkan nikel dan kobalt dari bijih limonit.
Biaya sulfur dan reagen kimia ini bisa berkontribusi sekitar 15 hingga 25 persen dari total biaya produksi MHP,” paparnya.
Karena itu, ketika Selat Hormuz kembali normal dan pasokan sulfur dari Timur Tengah berjalan lancar, harga sulfur global berpotensi mengalami penurunan yang signifikan.