PT BYD Motor Indonesia mengklarifikasi bahwa tumpukan kontainer milik perusahaan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, bukan berisi unit mobil utuh, melainkan komponen perakitan dan suku cadang.
Pernyataan ini disampaikan untuk merespons laporan penumpukan logistik impor yang sempat mencapai ribuan unit.
>>> Paraguay Kalahkan Turki 1-0 Berkat Gol Tunggal Matias Galarza
Manajemen BYD Indonesia menegaskan bahwa jumlah kontainer milik perusahaan yang tertahan di pelabuhan hanya sebagian kecil dari keseluruhan volume yang menjadi sorotan publik.
Perusahaan juga menyatakan tidak ada motif operasional untuk menunda pengeluaran barang karena tindakan tersebut justru merugikan finansial perusahaan.
"Dan setelah kami cek angkanya secara komprehensif, jumlah kontainer milik BYD adalah merupakan sebagian kecil dari total volume kontainer yang menjadi perhatian di pemberitaan," kata Luther Panjaitan, Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia.
Pihak perusahaan meluruskan spekulasi mengenai jenis muatan di dalam kontainer yang tertahan tersebut.
Manajemen memastikan barang impor itu ditujukan untuk keperluan produksi lokal, bukan kendaraan utuh yang siap didistribusikan ke jaringan dealer resmi.
"Kontainer tersebut bukan berisikan mobil, melainkan komponen untuk proses perakitan dan spare parts," jelas Luther Panjaitan.
Menurut penjelasan manajemen, kendala logistik dipicu oleh akumulasi volume kedatangan barang berkala, periode libur nasional, hambatan arus lalu lintas, serta penyesuaian armada pengangkut setelah perubahan harga bahan bakar minyak.
Perusahaan mengeklaim telah menambah jumlah armada truk dan menyiapkan fasilitas penampungan sementara di luar pelabuhan sejak awal Juni demi mempercepat pengosongan muatan.
"Kami ingin sampaikan bahwa tidak ada upaya kesengajaan untuk memperlambat proses, mengingat biaya penyimpanan dan tambahan penalti harian di Pelabuhan justru lebih besar dibandingkan biaya logistik dan penyimpanan baik milik sendiri atau temporary," kata Luther Panjaitan.
Sebelumnya, otoritas kepabeanan menyoroti adanya ribuan kontainer yang belum dikeluarkan oleh sejumlah perusahaan otomotif, termasuk BYD dan Wuling.
Importir dinilai memanfaatkan batas waktu fasilitas penumpukan gratis di area pelabuhan sehingga berdampak pada durasi waktu singgah komoditas impor.