"Berdiri di podium rasanya seperti mimpi yang terwujud melalui kerja keras yang panjang.
Mungkin banyak yang tidak tahu karena saya tidak menceritakan atau tidak posting bagaimana berkali-kali ada momen di saat-saat saya ingin memutuskan untuk tidak melanjutkan," ujar Ashanty.
Kesulitan akademik tersebut bahkan sempat berdampak pada kondisi fisiknya hingga harus mendapatkan perawatan medis menjelang ujian.
"Banyak sekali momen setiap kali mau sidang saya pasti masuk UGD. Banyak sekali momen mau sidang saya selalu gemetar untuk ketemu sama penguji.
Di usia 43 tahun, banyak rintangan dan perjuangan akademik yang tidak mudah," lanjut Ashanty.
Di akhir pidatonya, ia menegaskan bahwa keberhasilan meraih gelar tertinggi akademik ini tidak lepas dari peran serta orang-orang terdekatnya.
>>> Disinformasi di Era AI: Tantangan Global yang Semakin Kompleks
"Pencapaian ini adalah hasil dari perjuangan dan usaha yang tidak pernah berhenti. Saya bisa berdiri di sini karena dukungan suami, anak-anak, dan keluarga," kata Ashanty.
