>>> Cristiano Ronaldo: 2026 Jadi Piala Dunia Terakhir Saya
Karena gerak utamanya masih menggunakan otot alami kecoa, perangkat elektronik yang dipasang tidak membutuhkan baterai besar maupun motor penggerak seperti robot konvensional.
Hal ini membuat sistem menjadi lebih ringan dan hemat energi.
Menurut para peneliti, teknologi ini dikembangkan bukan untuk menciptakan 'serangga super', melainkan membantu manusia menjangkau lokasi yang sulit diakses.
Prof. Hirotaka Sato dari School of Mechanical and Aerospace Engineering, NTU, mengatakan lokasi bencana sering kali dipenuhi lorong sempit, puing bangunan, maupun genangan air yang sulit dimasuki robot biasa.
"Baju selam serangga yang kami kembangkan bekerja seperti tabung oksigen yang digunakan penyelam manusia," kata Sato.
Ia menambahkan, kemampuan baru tersebut diharapkan dapat memperluas peran kecoa cyborg dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
"Dengan memperluas kemampuan kecoa cyborg hingga bisa bergerak di bawah air, kami yakin mereka dapat meningkatkan efektivitas operasi pencarian dan penyelamatan," ujarnya.
Pemanfaatan kecoa cyborg juga tidak berhenti di Bumi.
Para peneliti menilai biohybrid seperti ini lebih efisien dibanding robot mini sepenuhnya karena memanfaatkan kemampuan alami serangga untuk bergerak, menjaga keseimbangan, dan memperoleh energi dari makanan.
Ke depan, tim berencana menguji perangkat tersebut di lingkungan yang lebih ekstrem, termasuk kondisi yang menyerupai luar angkasa.
"Tujuan akhirnya adalah membawa teknologi ini ke luar angkasa.
Ini adalah satu langkah menuju pakaian luar angkasa bagi serangga cyborg, misalnya untuk eksplorasi permukaan Mars," kata Sato.
>>> Pelatih Norwegia: Brasil Favorit, tapi Bukan Favorit Utama
Penelitian ini menunjukkan bagaimana perpaduan biologi dan robotika dapat melahirkan teknologi baru yang berpotensi membantu pencarian korban bencana, inspeksi infrastruktur berbahaya, hingga eksplorasi planet lain pada masa depan.
