Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun di Ontario, Kanada, meninggal dunia setelah digigit kelelawar pembawa rabies yang hinggap di wajahnya saat ia tertidur.
Anak tersebut tidak memiliki bekas gigitan atau cengkeraman yang jelas dan tidak menunjukkan gejala selama 19 hari pertama setelah insiden tersebut.
>>> Portugal Tersingkir di Piala Dunia 2026, Bruno Fernandes Ungkap Kekecewaan
Peristiwa itu terjadi saat liburan bersama orang tuanya di sebuah pondok di Ontario pada tahun 2024.
Anak itu terbangun di malam hari karena ada kelelawar hinggap di hidung dan mulutnya, menurut laporan Canadian Medical Association Journal.
Sang ayah menangkap kelelawar itu dan melepaskannya.
Karena anak tersebut tidak mengalami luka terlihat dan kelelawar tidak tampak agresif, orang tuanya memutuskan tidak mencari pemeriksaan medis.
Beberapa minggu kemudian, anak tersebut mulai kesemutan, mati rasa, dan pembengkakan sisi kanan wajahnya.
Ketika diperiksa di rumah sakit setempat, tanda vitalnya tampak normal, selain adanya peningkatan detak jantung dan jumlah sel darah putih.
Keesokan harinya, gejalanya memburuk. Ia mati rasa di sisi kanan wajah dan bicara tidak jelas.
Saat menunggu di rumah sakit, ia demam, linglung, halusinasi, dan kesulitan menelan, diikuti produksi air liur berlebihan.
Setelah empat hari dirawat di unit perawatan intensif McMaster Children's Hospital di Hamilton, Ontario, anak tersebut dinyatakan positif rabies.
Setelah lima hari, refleks batang otaknya hilang. Tujuh belas hari setelah dirawat, alat penunjang hidupnya dilepas dan ia dinyatakan meninggal dunia.
Bahaya Rabies dari Kelelawar
Rabies adalah penyakit virus yang terutama menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini utamanya menyebar melalui gigitan dan cengkeraman dari hewan terinfeksi.
Di Amerika Utara, kelelawar menjadi penyebab mayoritas kasus rabies.
>>> Vinicius Junior Dinilai Belum Mampu 'Gendong' Timnas Brasil

