"Kelelawar menimbulkan risiko tertentu karena gigitan atau cengkeramannya mungkin sangat kecil dan mudah terlewatkan, serta pasien mungkin tidak mengingat atau menyadari adanya paparan dari kelelawar," tulis tim medis.
Menurut laporan Journal of Virology tahun 2013, kelelawar berambut perak (Lasionycteris noctivagans) bertanggung jawab atas sebagian besar kasus rabies di Kanada.
Sigung, rubah, dan rakun juga sering membawa penyakit mematikan ini.
Virus rabies merambat hingga ke otak sebelum gejala muncul.
Begitu pasien bergejala, infeksi hampir 100% fatal, di mana sebagian besar kematian terjadi satu hingga dua minggu setelah gejala berkembang.
Meski demikian, penanganan cepat setelah paparan hampir selalu efektif mencegah penyakit tersebut.
Rabies manusia sangat jarang terjadi di Amerika Utara. Kurang dari 10 kematian dilaporkan di AS per tahun.
Di Kanada, hanya 28 kematian manusia akibat rabies dilaporkan sejak 1924.
Meski demikian, para dokter menekankan pentingnya pertolongan medis segera setelah seseorang terpapar kelelawar maupun hewan lain yang berpotensi rabies.
"Setiap kontak langsung antara manusia dengan kelelawar, bahkan jika tidak ada gigitan atau cengkeraman yang terlihat kasat mata, merupakan indikasi diberikannya penanganan," tulis ahli medis.
Mereka menambahkan kelelawar yang terinfeksi rabies tidak selalu menunjukkan gejala klasik yang biasa dikaitkan dengan penyakit tersebut, seperti perilaku agresif dan mulut berbusa.
>>> Akhir Pahit Ronaldo di Timnas Portugal: Tersingkir di Piala Dunia 2026
"Setiap kontak langsung antara manusia dengan kelelawar harus dianggap risiko tinggi," tambah mereka.
