FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino kembali menuai kontroversi di Piala Dunia 2026.
Keputusan menangguhkan kartu merah Folarin Balogun memicu kemarahan publik sepak bola, termasuk mantan Presiden FIFA Sepp Blatter.
>>> Donald Trump Puji Harry Kane: Pemain Hebat!
Kartu merah diterima Balogun saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia & Herzegovina. Presiden AS Donald Trump kemudian menelepon Infantino dan meminta peninjauan ulang, dengan alasan wasit melakukan kesalahan.
FIFA mengabulkan permintaan Trump. Hukuman satu pertandingan Balogun ditangguhkan, sehingga ia bisa membela AS di babak 16 besar melawan Belgia.
Blatter: Kartu Merah Tidak Bisa Dibatalkan oleh Telepon Politik
Sepp Blatter, melalui akun X pribadinya, mempertanyakan langkah FIFA.
Ia menegaskan bahwa kartu merah seharusnya dibatalkan berdasarkan aturan, bukti, dan badan independen, bukan oleh panggilan telepon politik.
"Jika seorang Presiden AS ikut campur tangan dengan Presiden FIFA -- dan seorang pemain tiba-tiba dinyatakan bersih sebelum pertandingan babak gugur Piala Dunia -- pertanyaan yang tak terhindarkan adalah: Quo vadis, FIFA?"
>>> Vivo Y500 Resmi Meluncur di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harganya
tulis Blatter.
Blatter menambahkan bahwa sepak bola tidak boleh menjadi arena permainan untuk perebutan kekuasaan politik. Ia menyesalkan keputusan FIFA yang dinilai sudah di luar jalur.
Masa jabatan Blatter sebagai presiden FIFA berakhir pada 2015 setelah ia dilarang terlibat dalam sepak bola selama delapan tahun, yang kemudian dikurangi menjadi enam tahun.
Larangan itu terkait pembayaran kepada Michel Platini.
Kedua pria tersebut dinyatakan tidak bersalah di pengadilan Swiss.
>>> Ronaldo Samakan Euro 2016 dengan Piala Dunia, Netizen Ramai 'Rujak' Bang Dodo
Namun, pada 2021, komite etik FIFA kembali menjatuhkan skorsing enam tahun kepada Blatter atas pelanggaran kode etik lainnya.

