Afghanistan pernah menjadi rumah bagi kota bergaya Yunani lengkap dengan teater, gimnasium, istana, dan kuil.
Kota kuno Ai-Khanoum, yang berdiri sekitar 2.000 tahun lalu, merupakan salah satu pusat peradaban Helenistik paling timur yang pernah dibangun.
>>> Tecno Pova 8 5G Resmi di Indonesia, Baterai 8.000 mAh Jadi Andalan
Kota ini terletak di wilayah Baktria, dekat pertemuan Sungai Amu Darya (Oxus) dan Kokcha.
Ai-Khanoum ditinggalkan sekitar abad ke-2 SM, namun reruntuhannya memberikan gambaran langka tentang penyebaran budaya Yunani jauh dari Laut Mediterania.
Sejarah dan Arsitektur Ai-Khanoum
Para arkeolog meyakini Ai-Khanoum didirikan pada awal abad ke-3 SM oleh penguasa Kekaisaran Seleukia.
Penelitian terbaru menunjukkan kota ini kemungkinan dibangun beberapa dekade setelah kematian Alexander Agung, meski sempat diduga sebagai salah satu kota yang didirikan langsung olehnya.
Tata kota Ai-Khanoum sangat khas Yunani.
Arkeolog menemukan teater berkapasitas ribuan penonton, gimnasium untuk pendidikan dan olahraga, kompleks istana, gudang senjata, serta berbagai kuil.
Temuan ini menunjukkan masyarakat Yunani tidak hanya datang sebagai pasukan penakluk, tetapi juga membangun pusat pemerintahan dan kebudayaan yang berkembang di Asia Tengah selama beberapa generasi.
Selain bangunan megah, peneliti menemukan prasasti Yunani, koin kerajaan Yunani-Baktria, dan artefak yang memperlihatkan perpaduan budaya Yunani dan lokal.
>>> Prancis Dianggap Tim Biasa Saja Usai Kalah dari Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026
Kemunduran dan Penemuan Kembali
Ai-Khanoum berkembang selama lebih dari satu abad sebelum mengalami kemunduran akibat konflik dan invasi bangsa nomaden dari utara.
Sekitar tahun 145 SM, kota itu direbut oleh kelompok Saka.
Sebagian wilayahnya sempat dihuni kembali, tetapi kebakaran besar dan instabilitas politik membuat kota tersebut akhirnya ditinggalkan.
Pada abad ke-2 M, hampir tidak ada lagi tanda kehidupan di kawasan itu.
Selama lebih dari dua milenium, reruntuhan Ai-Khanoum terkubur hingga ditemukan kembali secara tidak sengaja pada 1961 oleh Raja Afghanistan saat itu, Mohammed Zahir Shah, ketika sedang berburu.
Penemuan itu diikuti penggalian besar-besaran oleh tim arkeolog Prancis hingga akhir 1970-an.
Meski banyak artefak dijarah selama konflik di Afghanistan, Ai-Khanoum tetap dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi terpenting di Asia Tengah.
>>> Spanyol ke Final Piala Dunia 2026, Tuchel: Rasanya Tak Bisa Dikalahkan
Keberadaan kota ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya Yunani pernah menjangkau wilayah yang kini menjadi Afghanistan dan berpadu dengan tradisi lokal, melahirkan peradaban Yunani-Baktria yang unik.

