Ratusan pemanah tradisional memadati arena Gladhen Ageng Jemparingan 2026 yang digelar di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Minggu (26/7/2026).
Ajang tahunan ini menjadi wadah bagi para pegiat jemparingan untuk mempertahankan sekaligus memperkenalkan olahraga panahan tradisional bergaya Mataram kepada masyarakat luas.
>>> Pelatih Kamboja Akui Minim Persiapan Hadapi Indonesia, Kiper Tetap Optimis
Sebanyak 482 peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Mereka bergantian membidik sasaran menggunakan busur dan anak panah tradisional sesuai pakem jemparingan Mataram yang mengutamakan ketenangan, konsentrasi, serta pengendalian diri.
>>> Semua Clue Sudah Dirilis, Ini 7 Lokasi Hidden Erafone Store di Roblox
Filosofi Jemparingan Mataram
Berbeda dengan panahan modern yang menitikberatkan pada akurasi dan kecepatan, jemparingan bergaya Mataram memiliki filosofi tersendiri.
Pemanah umumnya membidik sasaran dalam posisi duduk bersila (jengkeng) tanpa mengandalkan bidikan langsung.
>>> Produktivitas Melesat Pakai Layar Besar Motorola Razr Fold
Keterampilan, kesabaran, dan kepekaan menjadi unsur utama dalam setiap tembakan.

