Apple melayangkan gugatan hukum terhadap OpenAI di pengadilan federal California, menuduh perusahaan riset kecerdasan buatan itu melakukan pencurian rahasia dagang.
Dalam gugatannya, Apple mengklaim OpenAI merekrut mantan karyawan mereka yang memiliki akses ke informasi rahasia perusahaan.
>>> Indonesia Pasang Target Juara Piala AFF 2026 dengan Skuad Lebih Matang
Tuduhan Rekrutmen dan Akses Data
Apple menunjuk Chief Hardware Officer OpenAI, Tang Tan, yang merupakan mantan petinggi Apple, sebagai salah satu contoh kasus.
Disebutkan bahwa Tang Tan menggunakan nama proyek internal Apple saat merekrut, meminta kandidat membawa komponen perangkat Apple, dan mencari informasi produk yang belum diumumkan.
Selain itu, Apple juga menuduh mantan insinyur mereka, Chang Liu, tetap mengakses sistem internal perusahaan setelah berhenti dan membawa data proyek hardware rahasia.
Apple meyakini tindakan ini bukan ulah individu, melainkan modus yang didukung oleh pimpinan OpenAI.
OpenAI membantah seluruh tuduhan tersebut, mengklaim tidak ada bukti dan menegaskan komitmen pada persaingan sehat serta kebebasan bekerja.
Namun, banyak pengamat melihat isu ini lebih luas dari sekadar dugaan pencurian rahasia dagang.
Pertaruhan utamanya adalah masa depan industri perangkat konsumen.
>>> Duta Judi di Rusia, Andrea Pirlo Batal Latih Timnas Italia?
OpenAI diketahui telah mengakuisisi io Products, perusahaan hardware yang didirikan oleh mantan desainer legendaris Apple, Jony Ive, pada tahun 2025.
Langkah ini mengindikasikan ambisi OpenAI untuk menghadirkan perangkat AI baru yang tidak bergantung pada smartphone tradisional.
Perangkat pertama OpenAI disebut-sebut berupa perangkat portabel tanpa layar atau mobile smart speaker.
Gugatan Apple berpotensi menghambat ambisi pengembangan produk AI OpenAI, terlepas dari hasil akhir persidangan.
Bagi Apple, gugatan ini adalah upaya melindungi teknologi dan rantai pasok yang menjadi fondasi kesuksesan iPhone.
Sementara bagi OpenAI, perkara ini datang di saat krusial menjelang ekspansi bisnis hardware dan menghadapi tantangan hukum lainnya.
>>> Super El Nino 2026 Diprediksi Menguat Hingga Awal 2027
Sengketa ini mencerminkan persaingan untuk menentukan pemimpin era post-smartphone, di mana perangkat AI diprediksi akan menjadi pusat interaksi manusia dengan teknologi.
