Material yang digunakan pun sebagian besar berasal dari sekitar lokasi, seperti batu calcrete dari tambang lokal dan kayu dari pohon mati yang ditemukan di kawasan tersebut.
Cara ini membantu mengurangi jejak karbon akibat pengangkutan material dari tempat jauh.
Selain mengurangi dampak visual, bangunan yang menyatu dengan lanskap juga dapat membantu menjaga suhu ruang tetap stabil.
Warna alami dan material lokal menyerap serta melepaskan panas lebih baik dibandingkan material buatan yang kontras dengan lingkungan gurun.
Konsep arsitektur tak terlihat kini mulai banyak diterapkan pada proyek-proyek di kawasan alam sensitif, mulai dari gurun, pegunungan, hingga kawasan konservasi.
Alih-alih menjadikan bangunan sebagai pusat perhatian, pendekatan ini berusaha membuat manusia menjadi tamu yang menghormati bentang alam.
Bagi ilmuwan lingkungan dan arsitek, desain semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan modern tidak selalu harus mengubah wajah alam.
>>> Belum Diresmikan, Mohamed Salah Sudah Berseragam Trabzonspor
Dengan memahami geologi, iklim, dan karakter ekosistem setempat, bangunan justru dapat menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari lanskapnya.
